Kemunculan Ular di Kraton Pertanda Baik?

YOGYA, KRJOGJA.com – Tersebarnya foto seekor ular melingkar di tiang Bangsal Magangan Kraton Yogyakarta beberapa hari terakhir membuat banyak spekulasi bermunculan. Ada yang mengaitkan dengan hal-hal terjadi kedepan di Kraton maupun wilayah DIY.

Dr Purwadi, Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara (Lokantara) mengatakan sejarah simbol ular di kerajaan Pulau Jawa selalu dikaitkan dengan kemakmuran ibu pertiwi yang dimulai tahun 356 ketika Prabu Kusumawicitra, Raja Pengging mengadakan upacara sesaji Naga Suweda. Bersama dengan pangageng sentana abdi dalem, Kraton Pengging ngadani wilujengan negari yang tujuannya untuk mendapat keselamatan lahir batin.

“Upacara sesaji Naga Suweda diikuti oleh para bupati Bang Wetan, Bang Kulon dan pesisir. Uba rampe yang disediakan terdiri dari aneka ragam hasil bumi. Palawija, pala pendhem, pala gumandhul, pala kesimpar, pala kitri yang melambangkan kesuburan. Tiap tahun tradisi adat ini dilakukan untuk menghormati Sang Hyang Basuki atau Batara Nagaraja. Berkuasa di dasar bumi, yaitu Kayangan Sapta Pratala. Putrinya seorang widodari cantik jelita bernama Dewi Nagagini. Sang Hyang Basuki berupa seekor ular besar. Beliau bertugas untuk menjaga keselamatan tanah,” ungkap Purwadi, Rabu (21/10/2020).

Kerajaan kahuripan, Daha, Singasari jenggala, Kediri, Malawapati, Majapahit senantiasa menyelenggarakan upacara sesaji Naga Suweda namun cara wilujengan negari sesaji naga suweda sempat berhenti tahun 1479 pada masa kerajaan Demak Bintara yang sempat melarang acara tradisi. Tiba tiba muncul pageblug mayangkara, banjir bandang, gempa bumi, cleret tahun, angin lesus silih berganti.

BERITA REKOMENDASI