Kenalkan..Enka Komariah, Peraih Young Artist Award ART JOG 2019

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJOGJA.com – Enka Komariah terpilih menjadi pemenang dalam kompetisi Young Artist Award pada ARTJOG MMXIX. Karya seniman asal Klaten dalam ART JOG ini menarik untuk diulas. Siapa kah dia?

ART JOG MMXIX tidak hanya menjadi wadah bagi seniman ternama, Artjog juga memberikan ruang dan apresiasi terhadap seniman-seniman muda. Young Artist Award merupakan salah satu program yang mendukung ide tersebut.

Enka, semejak kecil diperkenalkan dengan gambar dan cerita lewat komik koleksi ayahnya. Hal-hal yang berbau visual kemudian diteruskannya dengan menggambar di media apapun. Kegemarannya menggambar kemudian mendorongnya untuk melanjutkan studi di SMSR Yogyakarta, tahun 2008. Semasa sekolah di SMSR ini dia pulang pergi Klaten Yogyakarta naik sepeda motor, sembari memandang lingkungan sekeliling, terutama mengamati tembok kosong di pinggir jalan.

Pada perjalanan selanjutnya, Enka mulai menggambari tembok kosong sepanjang Yogja-Klaten. Hal ini dilakukannya hampir tiap hari dengan biaya sendiri. Sejak tahun 2010, pada tiap muralnya Enka menulis inisialnya sebagai NKOMR, yang berarti Enka Komariah. Komariah sendiri adalah nama ibunya. 

Setelah lulus dari SMSR, Enka diterima di Seni Grafis ISI Yogyakarta dan mulai aktif berkarya, dengan tetap melanjutkan kegiatan muralnya. Saat kuliah inilah Enka banyak belajar tentang sejarah terutama sejarah lokal dan tradisi, mitos dan tema-tema sosial serta agama yang sering dijumpai lewat pengalamannya.

Banyak hal yang menurutnya tidak sesuai dengan pemahaman umum. Kegelisahannya lalu disampaikannya lewat bahasa gambar. Visualnya tidak runut, berjumpalitan dan kadang seperti asal tempel, namun sebenarnya lewat metode kolase semacam ini Enka sedang merajut kegelisahan dan pencarian dirinya.

Melalui Karyanya, Enka berusaha untuk menelisik kembali bagaimana sebuah pemaknaan sakral maupun politis bagi masyarakat pada waktu atau era tertentu kemudian berubah atau diganti maknanya dengan pendirian sebuah bangunan baru yang bernafaskan keagamaan.

"Karya ini berbicara tentang perubahan dari bentuk dan fungsi. Lebih bercerita masjid atau bangunan tua yang ada di Klaten," kata Enka saat ditemui krjogja.com di Jogja Nasional Museum. Kamis (22/08/19).

Karya Enka sedang memaknai perubahan kuasa baik secara politis, keagamaan dan sosial pada sebuah situs yang mempunyai nilai sejarah. Bangunan tersebut ada di kota kelahirannya yaitu Klaten, Jawa Tengah.

Ada kisah yang menarik di karya Enka, ada Masjid yang didirikan diatas sendang yang ditimbun. Sehingga fungsi dan maknanya menjadi berbeda. Meskipun tidak semua, terkadang tempat yang sakral ditutup dengan alasan dianggap keramat, mendatangkan sesat dan musyrik sehingga didirikanlah tempat ibadah. Hal itu menjadi dasar terciptanya karya Enka.

"Berangkat dari kegelisahan saya sebagai orang Klaten yang melihat kenapa kok bangunan lama di robohin. Karena sebentulnya ini bisa menjadi penting untuk di ceritakan ke anak cucu bahwa dulu disini ada bangunan seperti ini bisa disebut sebuah monumen," ucanya.

Selain tempat yang sakral ada pula tempat atau gedung bersejarah yang juga diganti menjadi masjid. Seperti benteng ex kolonial Belanda yang dirobohkan dan dibangun Masjid Raya Klaten. Benteng itu dulunya bernama Fort Englenberg dan pada tahun 1950-an berubah menjadi masjid. Letaknya di pusat kota Klaten, disamping alun-alun kota.

"Tiga itu sudah ada fisiknya. Yang ingin disampaikan adalah kegelisahan Ini. Seharusnya kita mempertahankan sejarah. Misalnya bisa menjadi monumen pengingat," ungkapnya.

Enka berharap untuk menghargai bangunan lama atau disebut monumen yang bisa diingat itu. Sehinga bisa di ceritakan oleh generasi penerus dengan fisik yang ada. Karena sejauh ini Monumen hanya ada dalam cerita-cerita saja sedangkan fisiknya sudah tidak ada. (Ive)

 

BERITA REKOMENDASI