Kesadaran Akan Kebutaan Kornea Perlu Ditingkatkan

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Kebutaan kornea bisa ditangani melalui tindakan pencangkokan kornea dan pasien kemungkinan dapat melihat kembali. Namun pencangkokan kornea belum bisa dilakukan secara optimal karena terkendala jumlah donor kornea yang kurang memadai. Sehingga agar jangan sampai mengalami kebutaan kornea, diperlukan kesadaran tinggi dari para penderita kelainan ataupun penyakit kornea dan uveitis untuk segera berobat ke dokter mata jika mengalami penurunan tajam penglihatan.

Demikian dikatakan pakar kornea dan infeksi mata luar RSUP Dr Sardjito Yogyakarta, Prof dr Suhardjo SU SpM(K) saat jumpa pers di Poli Mata RSUP Dr Sardjito, Kamis (25/04/2019). Menurut Prof Suhardjo, kebutaan kornea sering kali diawali dengan infeksi kornea yang berat. Infeksi kornea yang berat ditandai peluruhan kornea (corneal melting) yang luas dan adanya nanah pada bilik mata depan (hipopion), bahkan terkadang kornea yang terinfeksi tersebut hampir jebol (impending corneal perforation).

"Kondisi infeksi kornea tersebut adalah kondisi gawat darurat yang harus segera dilakukan tatalaksana secara adekuat (memadai)," ujarnya didampingi dokter spesialis mata Dr Tri Winarti SpM.

Namun demikian, pasien terkadang kurang taat dalam meneteskan obat karena beberapa obat harus diteteskan secara frekuen, misalnya setiap 6 menit sekali, yang mengakibatkan dosis terapi kurang mencukupi. Dijelaskan Prof Suharjo, infeksi kornea relatif lebih sering terjadi pada orang-orang pedesaan yang mengalami trauma kornea.

Selain itu orang-orang dengan kekebalan tubuh yang kurang baik, misalnya penderita diabetes melitus dan usia lanjut. Kemudian pengguna lensa kontak yang kurang memperhatikan kebersihan dalam memakai lensa kontak.

Kebutaan juga dapat disebabkan oleh penyakit-penyakit infeksi pada mata bagian dalam (uveitis), baik karena infeksi bakteri, virus, maupun faktor bawaan yang sering kali terkait dengan kelainan-kelainan tubuh yang lain. Sayangnya, penyakit-penyakit tersebut cukup sulit dalam tatalaksananya dan terkadang berakhir dengan kebutaan. "Edukasi preventif dan promosi kesehatan serta deteksi dini penyakit merupakan investasi di bidang kesehatan," tambah Suhardjo. (Dev)

BERITA REKOMENDASI