Ketoprak Perlu Modernisasi

Editor: Ivan Aditya

YOGYA (KRjogja.com) – Guna makin mendekatkan seni pada generasi muda, butuh cara yang baik dan bisa diterima. Demikian pula ketika ingin membuat remja dan generasi muda gandrung dengan seni tradisional ketoprak. Tentu saja dibutuhkan cara yang efektif dan bisa diterima mereka.

"Kalau hanya bicara perubahan, pengembangan sih tidak sulit. Tapi implementasi dan praktiknya di lapagan yang penting agar seni tersebut tidak hilang ditelan jaman," ucap pegiat muda ketoprak Yogyakarta, Felmy Febrianto kepada KRjogja.com, Senin (12/09/2016).

Dikatakan Felmy, seyogyanya jika akan melakukan pengembangan tetap tidak mengesampingkan ruh seni tradisional tersebut, seperti tata krama, unggah-ungguh dan lainnya. Sebab sejatinya seni ketoprak bukan hanya tontonan, tapi juga memiliki visi sebagai tuntunan bagi masyarakat menuju tatanan yang lebih baik.

Beberapa sisi yang bisa digarap untuk kreasi agar dapat memenuhi keinginan kawula muda, seperti halnya durasi pementasan. Tentu akan lebih baik dan dapat mengakomodir kepentingan ketika pementasan tidak terlalu lama. Sebab kecenderungan anak muda saat ini lebih suka yang instan, cepat dan tidak bertele-tele. "Meski adakalanya butuh pentas ketoprak yang klasik dan dalam durasi cukup panjang untuk benang merahnya," ucap Felmy.

Selain itu, modernisasi dalam ketoprak juga menjadi penekanan yang diinginkan generasi muda. Bisa saja dalam percakapan antar pemainnya menggunakan bahasa yang cukup familiar sehingga mudah dipahami. Dalam hal tampilan juga bisa dimodernisasi sehingga tidak terlalu klasik. "Namun kembali diingat jangan sampai ruhnya hilang," tegasnya.

Sedang senior ketoprak Sugiman DN tidak menutup kemungkinan akan adanya modernisasi dalam ketoprak. Sebab seni tradisi diharapkan tidak statis. Tapi terus bergerak dinamis seiring waktu yang kerap dimaknai sebagai nut jaman kelakone. (R-7)

BERITA REKOMENDASI