Kiprah Dahsyat Hyena Davidson Yogyakarta

Editor: Agus Sigit

HYENA DAVIDSON Yogyakarta usianya baru seumur jagung untuk sebuah perkumpulan. Awal tahun 2021 jadi tonggak awal terbentuknya wadah bagi penggemar motor gede (Moge) tersebut. Meski tergolong belia, namun kiprah penghobi moge tersebut dalam bidang sosial tidak pernah dibiarkan padam.

Mengunjungi dan membantu panti asuhan, mensuport pembangunan masjid hanya secuil aktivitas sosial anggota Hyena Davidson Yogyakarta. Sebelumnya perkumpulan ini juga melakukan bedah rumah di Sleman. Bahkan Hyena Davidson memasang baliho raksasa berisi pesan moral anti narkoba di delapan titik strategis di DIY. Beragam kegiatan sosial tersebut merupakan terjemahan dari slogan Hyena Davidson Yogyakarta yakni ‘Menjadikan Hobi dan Berbagi Sebagai Gaya Hidup’.

Ditemui akhir pekan lalu, salah satu pentolan Hyena Davidson Yogyakarta, H Muhammad Lutfi Setyabudi menjelaskan tentang motivasi membentuk perkumpulan. Dijelaskan pula ketika menempatkan berbagi sebagai slogan. Tidak hanya itu, hadirnya Hyena Davidson Yogyakarta sekaligus untuk memupus stigma dimasyarakat jika penggemar Moge identik arogan dan hura-hura.

“Pesan moral yang ingin kami sampaikan kepada masyarakat ialah, ketika menggelar touring kita harus berbagi kepada sesama. Selalu saya tekankan kepada teman -teman hobi mewah boleh saja tetapi harus berbagi,” ujar Lutfi. Oleh karena itu, dalam berbagai kesempatan Lutfi tidak pernah lelah mengingatkan rekannya untuk selalu berbagi. Sebuah kondisi yang ironis sebenarnya, ketika seseorang bisa membeli moge sekelas harlay dengan harga selangit, namun pelit berbagai kepada sesama.

“Prinsip pentingnya berbagi kepada orang lain sekaligus mengingatkan diri kita sendiri, bahwa ada hak orang lain dalam harta kita,” jelasnya.

Spirit berbagi yang terus digaungkan Hyena Davidson tidak sekadar teori. Namun benar- benar diimplementasikan dalam berbagai kegiatan. Bahkan ketika menempuh perjalanan nan jauh menuju Sabang akhir bulan lalu. Salah satu rangkaian acaranya menggelar baksos di Yayasan Islam Media Kasih, Panti Asuhan di Aceh. Gerakan sosial penghobi Moge tidak berhenti di Aceh. Ketika tiba dititik O Indonesia di Sabang, peserta touring Aceh yang berjumlah 26 orang juga mengisi dengan kegiatan sosial.

Muhammad Lutfi Setyabudi mengungkapkan, pada saat Hyena Davidson dirintis tentu kehadirannya harus memberikan manfaat kepada sesama baik langsung dan tidak. Pihaknya menyadari stigma negatif dari sebagian masyarakat senantiasa menyelimuti para penggemar Moge tanah air. Mulai dianggap sombong, arogan serta mau menangnya sendiri ketika mengaspal dijalanan. Oleh karena itu, Hyena Davidson Yogyakarta mencoba mendegradasi anggapan tersebut. “Hobi motor itu tidak negatif, yang negatif itu perilakunya. Oleh karena itu, kita ingin menghapus pandangan itu dengan cara kami,” kata Lutfi.

Terobosan lain tidak kalah dahsyatpun diambil perkumpulan penghobi Moge tersebut. Hyena Davidson Yogyakarta juga sangat gencar mengkampanyekan bahaya narkoba. Mereka melihat bahwa salah satu sebab awal kehancuran suatu bangsa karena narkoba. “Negara ini akan jadi apa ketika generasi mudanya sudah terjerumus ke dalam jerat narkoba,” ujarnya. Karena saking bahayanya pengaruh narkoba, pihaknya mencoba untuk ikut berkontribusi dalam pencegahan.

Sosialisasi diinternal Hyena Davidson Yogyakarta hingga memasang 8 baliho berukuran raksasa disejumlah lokasi strategis di Yogyakarta, diantaranya di Jalan Seturan Sleman serta simpang empat Ring road Selatan Gondowulung. Lutfi juga menyambut dengan tangan terbuka untuk bersinergis dengan Badan Narkotika Kabupaten maupun Badan Narkotika Provinsi. “Mari kita bersama -sama melawan narkoba dengan cara memberikan edukasi kepada masyarakat. Karena salah satu bentuk pencegahan paling efektif dengan cara pendekatan, ” ujar Lutfi ditemui dikediamannya Jalan Imogiri Timur Pleret Bantul.

Dijelaskan, khusus di internal Hyena Davidson semua anggota harus bebas dan menghindari narkoba. “Jika ada anggota ( Hyena Davidson Yogyakarta-red) memakai ataupun mengedarkan narkoba akan kita tindak sendiri dan kami laporkan ke pihak berwajib,” ujarnya. Hyena Davidson memang lahir dari rahim Hyena motor trail yang bermarkas di daerah Tempel Sleman. Kemudian lewat berbagai obrolan akhirnya terbentuklah Hyena Davidson Yogyakarta dengan sekretariat di Jalan Bantul KM 5,5 Tirtonirmolo Kasihan Bantul.

Sejauh ini terdapat 35 orang masuk dalam perkumpulan tersebut dengan beragama profesi mulai, notaris, ASN, pengusaha hingga dokter. “Sejak awal membentuk Hyena Davidson Yogyakarta niat kami untuk membangun silaturahmi, saling berbagi. Sehingga kami tidak memberikan batasan, siapapun boleh masuk untuk gabung, ” jelasnya. Bahkan Hyena Davidson Yogyakarta kedepan dirancang seperti event organizer (EO) untuk memfasilitasi touring sepeda motor sekaligus berbagi.

Dalam kegiatan touring dan juga bakti sosial tersebut berangkat dari Medan-Langsa-Banda Aceh-Sabang-Banda Aceh-Meulaboh-Tapak Tuan-Danau Toba-Medan. Personel Hyena Davidson Yogyakarta juga sempat mampir untuk bersilaturahmi dengan Wakil Gubernur Sumatra Utara.

Terkait sebutan Hyena sebagai nama perkumpulan, hal tersebut untuk mengambil nilai- nilai dari hewan itu. Menurut Lutfi, hewan Hyena punya karakter berburu namun tanpa merebut milik yang lain. Artinya anggota Hyena Davidson Yogyakarta mesti bisa mengambil nilai filosofinya. (Roy)

BERITA REKOMENDASI