Kisah Cinta Dilan Bangkitkan Semangat ‘Berkirim Surat’ Anak Jaman Now

YOGYA, KRJOGJA.com – Lebih dari 200 anak muda dari seantero Yogyakarta berkumpul di Kantor Pos Besar Jalan Panembahan Senopati Minggu (11/3/2018) sore. Mereka terlihat antusias ingin bertemu Pidi Baiq sang penulis novel Dilan yang sukses diadaptasi ke layar lebar beberapa waktu terakhir.

Anak-anak muda yang rata-rata berusia di bawah 20-an tahun ini tertarik untuk bertemu dan berdiskusi dengan sosok yang kini lebih dikenal sebagai “Ayah Pidi” ini. Beberapa pertanyaan pun muncul mulai dari apa yang jadi ide awal pembuatan novel, siapa tokoh sebenarnya Dilan dan Milea hingga berapa lama pembuatan novel tersebut yang membuat suasana begitu cair dan ramah.

Ternyata, hari ini PT Pos Indonesia sedang punya hajatan besar khususnya bagi anak muda Yogyakarta. Perusahaan negara tersebut melaunching perangko dan kartu pos Dilan yang desainnya juga dibuat oleh Pidi Baiq.

Marketing Communication Manager PT Pos Indonesia Tata Sugiarta mengungkap film Dilan yang menampilkan kembali budaya berkirim surat tentu menjadi sebuah sinyal kencang bagi pihaknya untuk kembali memperkenalkan segala macam sisi dari surat-menyurat. Puisi cinta dan rayuan gombal yang dituliskan Dilan untuk Milea dan ditonton jutaan masyarakat Indonesia dianggap mampu mendongkrak kembali budaya surat-menyurat di Indonesia.

“Di Bandung, launching perangko dan kartu pos Dilan 1990 begitu sukses dan kali ini kami mencoba mengulangnya di Yogyakarta dan ternyata animonya luar biasa. Perangko dan kartu pos mungkin sudah bukan barang sehari-hari lagi tapi sangat menarik untuk dikoleksi atau kalau masih ingin menggunakan pun masih berfungsi. Ini coba kami kenalkan pada anak-anak jaman now,” ungkapnya.

PT Pos Indonesia sendiri mencetak 10 ribu kartu pos dan perangko Dilan 1990 yang mulai bisa dibeli di kantor pos terdekat. Di Yogyakarta, PT Pos menargetkan bisa menjual 2000 perangko seri Dilan 1990 yang dijual mulai hari ini.

“Harga kartu posnya Rp 12 ribu dan harga perangko serinya Rp 25 ribu. Ternyata animonya luar biasa, hari ini di Yogyakarta sudah terjual 400 dari target 2000,” sambungnya.

Sementara Pidi Baiq mengungkap sudah sejak lama ia mulai mendesain perangko dengan berbagai macam tema. Meski demikian, awalnya ia tak mengira budaya surat-menyurat yang mungkin sangat sederhana di masa saat ini bakal kembali bergaung setelah suksesnya film Dilan 1990 yang diadaptasi dari novel karyanya.

“Tidak ada kesulian mendesain perangko Dilan ini dan anak-anak muda sekarang harus tahu bagaimana indahnya seni surat-menyurat. Semoga bisa menginspirasi,” ungkapnya singkat. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI