Kisah Pasutri Sempat Tidur di Mushola, Kini Punya Bisnis Fashion Beromset Ratusan Juta Sebulan

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Farah Button sejak dua tahun terakhir menjadi salah satu primadona brand fashion pilihan kaum hawa di wilayah DIY bahkan Indonesia. Namun, tidak banyak orang tahu bagaimana perjuangan berat pasangan suami istri Sutardi (37) dan Farah Milayati Dyah Irawan (29), founder Farah Button dalam membangun bisnis yang kini beromset lebih dari Rp 600 juta sebulan itu.

Perjalanan Sutardi dan Farah di Yogyakarta dimulai pada Agustus 2015 silam, saat Sutardi harus menyudahi kariernya di Jakarta akibat perusahaan tempatnya bekerja gulung tikar. Enam bulan ia dan sang istri berjuang untuk survive, namun justru uang tabungan yang habis ditambah hutang Rp 40 juta hingga tak mampu membayar kontrakan.

“Saya kebetulan dulu kerja di bidang jasa, seperti booking hotel dan beberapa hal di seputar itu. Perusahaan saya gulung tikar, sempat cukup lama coba peruntungan tapi saat itu belum untung tampaknya. Tabungan habis, saya punya hutang sampai Rp 40 juta tidak bisa bayar kontrakan yasudah kita pergi cuma bawa pakaian saja ke Kebumen tempat istri, lalu saya ke Jogja untuk coba-coba cari kerjaan,” ungkapnya ketika berbincang, Senin (27/12/2021).

Tak punya pilihan, Sutardi nekat ke Yogyakarta dengan hanya membawa sedikit uang sisa pinjaman dari Jakarta Rp 480 ribu. Kebingungan tak kenal siapa-siapa, ia akhirnya hanya bisa berjalan dari Terminal Jombor menumpang tidur di mushola SPBU Jalan Magelang tepat di selatan kantor TVRI Yogya, tempat yang terus diingatnya hingga sekarang.

Selama dua hari tidur bermalam di mushola itu, ia mencoba mencari peruntungan usaha. Namun tanpa diduga, Farah istrinya menyusul dan akhirnya terkaget-kaget karena sang suami sudah selama beberapa hari tinggal di Mushola karena tak punya uang.

“Istriku nyusul dari Kebumen, kami tidur di Mushola karena benar-benar tidak punya uang. Kami tidak punya kendaraan dan bingung. Bahkan saat itu sempat terlintas berbuat jahat, karena kepepet banget. Itu benar-benar titik terbawah kami,” kenang Sutardi.

Namun, tak disangka, pertolongan yang begitu luar biasa datang, dari mantan klien yang kerap dibantu saat masih bekerja di bidang jasa perhotelan. Seorang ibu yang Sutardi pun kini tak ingat namanya, karena riwayat Disleksia yang dimiliki sejak dahulu membuatnya sulit mengingat juga membaca.

“Saat itu, tiba-tiba ada telpon masuk dari klien yang ternyata baru tahu saya sudah tidak kerja di perusahaan yang lama. Seorang ibu, namanya saya lupa entah ibu Tri atau Sri, beliau menanyakan ke orang resepsionis di kantor lama saya dan tanya di mana saya lalu saya bilang di Jogja,” kenangnya.

Tak disangka, si ibu yang disebutnya sebagai malaikat langsung terbang ke Yogyakarta. Saat itu Sutardi sebenarnya sangat kebingungan bahkan berniat mencuri kotak uang di SPBU Jalan Magelang untuk bertahan hidup.

“Malam sebelumnya saya sudah niat mau mencuri karena bingung mau bagaimana lagi. Tapi ternyata ibu itu langsung ke Jogja dan terkaget ketika tahu saya tidur di Mushola SPBU itu. Dia lihat ke Mushola dan ada pakaian saya. Saya pertama kali ketemu dia karena selama ini hanya lewat handphone. Beliau menangis, memaksa saya minta nomor rekening tapi saya tidak kasih. Akhirnya dia ambil dompet, memberi saya uang Rp 15 juta. Dia bilang, ini mau kamu kembalikan tidak apa-apa, tidak kamu kembalikan juga saya sudah ikhlas. Itu saya nangis, karena benar-benar sudah tidak punya uang,” kenangnya lagi.

Dari uang Rp 15 juta yang dipinjamkan itu, Sutardi lantas memutar otak mencari peluang untuk memulai usaha. Ia dan sang istri ke Jogja City Mall di pameran atrium. Ia memberanikan diri bertanya pada event organizer yang mengadakan dan diberikan saran untuk bisnis fashion.

“Saya telpon teman di Jakarta, jual baju sisa ekspor dari brand-brand besar juga dipinjami gawangan hanger untuk jualan. Hari pertama jualan, setengah dari pakaian yang kami jual habis. Dari situ saya berpikir untuk membangun brand dan menjahit baju sendiri,” ungkapnya lagi.

Sedikit demi sedikit, uang itu berputar dari dagangan pakaian yang dijual, untung dan rugi silih berganti dirasakan. Kebaikan demi kebaikan dirasakan mulai bantuan uang, lalu juga bantuan sesama pedagang pakaian yang ikut pameran.

“Saya bisa kost di belakang JCM, Jalan Magelang. Saya ikut jualan di pameran dan ternyata pindah-pindah seperti ke Galeria Mall. Ternyata jauh sekali, naik taksi mahal dan kami beli sepeda. Kami pulang balik naik sepeda tiap hari. Ternyata malah lebih sehat, dan kami dapat rejeki yang lama ditunggu karena Alhamdulillah istri hamil, mungkin muncul rejeki-rejeki dari situ juga. Kami sedikit demi sedikit mengembangkan usaha,” lanjut dia.

Saat itu Sutardi masih berkontak dengan ibu yang memberikannya uang Rp 15 juta. Ia pun akhirnya bisa mengembalikan uang itu beberapa bulan setelah meminjam karena uang yang diberikan terus berkembang.

“Uang dari ibu itu sudah saya kembalikan, saya cicil terus sampai lunas. Tapi kemudian handphone saya hilang, jadi lepas kontak sampai sekarang. Pun nama beliau saya juga tidak ingat. Sebenarnya saya ingin sekali bertemu untuk mengucapkan terimakasih lagi. Sampai hari ini saya scroll instagram dan facebook untuk mencari ibu itu, sampai hari ini,” kenangnya terharu.

Tinggal di Yogyakarta, dirasakan Sutardi membawa begitu banyak energi positif. Ia merasakan banyak dibantu oleh orang-orang yang ditemui meski sebelumnya tak dikenal hingga akrab dan menjadi keluarga.

Ia bersama istri terus melebarkan sayap membangun brand sendiri berbekal pengalaman berjualan pakaian khususnya perempuan. Farrah Button yang diambil dari nama sang istri, yang hampir semuanya didesain sendiri oleh Sutardi mulai dikembangkan dengan lebih maksimal.

Tahun 2017 kami yang masih terus bergerak dari pameran ke pameran dipaksa pergi karena penjual lain yang tidak suka karena barang yang dijual selalu laris-manis. Farah Button lalu membuka gera perdana di Kledokan Sleman, dan terus bergerak maju.

Tidak mudah memang, Sutardi mendesain, menjahit lalu melemparkan ke konveksi yang lebih besar untuk diproduksi dan dijual ke pasaran. Semua pakaian hasil desainnya juga hanya terinspirasi dan menyesuaikan ukuran sang istri, agar ketika tak laku bisa dipakai sendiri.

“Saya kebetulan senang utak-atik desain pakaian perempuan meski lulusan manajemen. Mencoba mix and match dan ternyata disukai. Tapi Farah Button ini baru benar-benar booming saat pandemi, dua tahun terakhir ini. Kami memang suka mengeluarkan desain berbeda saat hype model tertentu. Mungkin berbeda itu yang justru dicari,” ungkap ayah dua anak ini.

Dalam dua tahun terakhir, lebih dari 10 ribu pieces pakaian berbagai model dihasilkan setiap bulannya. Hampir pasti seluruhnya terjual habis di gerai Farrah Button yang kini dimiliki oleh Sutardi. Tak heran pula bila omset Farrah Button saat ini mencapai lebih dari Rp 600 juta sebulan

“Saat ini alhamdulillah, hampir semua model yang kami keluarkan pasti habis. Kami tetap bekerjasama dengan penjahit dari konveksi di Yogyakarta meski sebenarnya bisa buat pabrik sendiri. Kami ingin tetap menghidupkan ekosistem, karena kalau Farah Button buat sendiri, para penjahit akan kehilangan pekerjaan nantinya. Sekarang kalau kita keluarkan satu model, 1000 pieces misalnya, ndak sampai tiga hari sudah habis pasti, alhamdulillah lagi mungkin sudah ada di hati konsumen ya, karena membuatnya juga dengan hati,” imbuh pria yang kini sudah menjadi warga DIY ini.

Farah Button sendiri kini sudah memiliki delapan outlet di mall-mall besar DIY dan Jakarta. Banyak tawaran untuk berjejaring muncul dari kota-kota besar lainnya, untuk memasukkan Farrah Button sebagai salah satu brand fashion kaum hawa.

Setiap satu minggu, Farrah Button mengeluarkan desain-desain baru, buah inspirasi Sutardi bersama istri. Mereka berdua terus berkarya, mengkreasikan pakaian dari Yogyakarta yang diharapkan bisa menyentuh pasar dunia.

“Saya maunya semua tetap diproduksi di Yogya karena dari sini semua berawal dari kami yang tidak punya apa-apa sampai bisa seperti sekarang. Kami ingin berterimakasih pada Jogja, yang membawa aura positif. Dua anak kami lahir di sini, dan semua rejeki mengalir dari sini untuk kami. Di sisi lain, semoga brand kami bisa membawa manfaat untuk lebih banyak orang terlebih yang sedang jatuh dan ingin bangkit,” pungkas pria yang akrab disapa Suta ini. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI