Klepon, Jajanan Abdi Dalem yang Diciptakan Kanjeng Ratu Wiratsari

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Beberapa hari belakangan warnaget digegerkan dengan polemik klepon yang dinarasikan sebagai sebuah makanan tak Islami. Beragam komentar muncul dimana tak sedikit yang menilai unggahan sengaja dibuat untuk mengacaukan situasi.

Sejarah munculnya klepon yang berwarna hijau dengan isian gula jawa tersebut, menurut Ketua Lembaga Kajian Nusantara (Lokananta) Dr Purwadi pertama kali diciptakan oleh Kanjeng Ratu Wiratsari pada tahun 1647. Wiratsari merupakan permaisuri Sinuwun Amangkurat Agung yang merupakan Raja Mataram (1645-1677).

Saat itu Kraton Mataram berada di Pleret dan Kraton memiliki juru masak Mondro Budoyo yang dipimpin Nyi Menggung Gondoroso. Abdi dalem Mondro Budoyo bertugas membuat dhaharan dan klepon merupakan jajanan basah khusus untuk abdi dalem.

“Bahannya mudah dan murah. Sesungguhnya klepon mengandung makna piwulang luhur. Klepon, kalepon, rikala malebu kudu pono. Rikala, saat. Malebu, masuk. Pono, mengerti. Klepon atau kalepon artinya saat masuk kerja harus tahu tugas pokok dan fungsi atau tupoksi,” ungkap Purwadi, Kamis (23/07/2020).

Klepon dibuat untuk mengingatkan para abdi dalem saat bekerja di Kraton Mataram sesuai ketugasan masing-masing. Ada empat tingkatan yang perlu diketahui, pertama ‘Dhupak Bujang’ yakni pekerjaan manual untuk kalangan pekerja bawah, kedua ‘Esem Mantri yaitu pekerjaan untuk para administrasi.

Ketiga ‘Semu Bupati’ yakni kepemimpinan untuk setingkat bupati dan keempat ‘Sasmita Narendra’ yaitu pekerjaan raja yang dilakukan dengan perintah simbolik. “Ketika Sinuwun Amangkurat berkunjung ke Banyumas, klepon diproduksi besar besaran. Bersamaan itu pula tahun 1653 makanan bawah dikembangkan dengan adanya mendowan. Artinya dimen jodo jiwane bebrayan,” sambungnya.

Ratu Wiratsari disebut Purwadi juga memiliki kemampuan memasak yang mumpuni. Ia juga membuat wedang dipadukan dengan nyamikan gedhang kepok yang memiliki makna filosofis.

“Atas usul Ki Ageng Giri Larangan yang berasal dari Gumelem Susukan Banjarnegara. Tahun 1654 Ratu Wiratsari juga membuat unjukan wedang, nyamikan gedang kepok. Wedang, gawe kadang untuk tujuan kerukunan. Gedang, berarti digeget supaya padang. Kepok berarti keturutan anggone ndhedhepok, kesampaian segala cita cita. Begitulah makna filosofis makanan tradisional dari perspektif historis. Nenek moyang kita punya pemikiran yang gemilang,” pungkas Purwadi. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI