Klepon Vs Kurma, Ini Kata Ahli Gastronomi

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Polemik klepon beberapa hari belakangan membuat gaduh warganet. Berbagai pendapat mencuat mulai kontra hingga menilai postingan sebagai kesengajaan untuk melihat sekat kubu pasca pemilu presiden tahun lalu.

Dr Minta Harsana, ahli gastronomi (makanan tradisional) UNY yang juga founder Kandang Kebo menyatakan keprihatinannya akan adanya postingan yang pada awalnya mengarah pada promosi sebuah produk. Klepon yang disebut sebagai makanan tak Islami disandingkan dengan kurma yang identik dengan makanan Rasulullah dalam ajaran Islam.

Minta menjelaskan penganan klepon merupakan kue tradisional yang berbahan dasar tepung ketan putih. Kue ini sebaiknya dimakan tanpa disentuh dengan tangan, gunakan garpu atau semacam tusuk gigi karena kandungan pektin dalam bahan dasarnya yang cenderung menyebabkan klepon lengket ditangan.

“Tak banyak anak kecil yang menyukai kue ini karena rasa luarnya yang cenderung hambar dan hanya sedikit asin. Sebagian penikmatnya adala kaum dewasa maniak jajanan pasar. Perlu diingat bahwa klepon tidak disarankan untuk penderita asam urat tinggi. Klepon adalah lambang kelembutan, ketepatan, kesebaran, keuletan serta ketelitian. Komposisi klepon harus tepat, tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih. Kualitas klepon juga ditentukan oleh setiap komposisi bahan dasar yang dipilih. Akan berbeda klepon dari pewarna kain dan klepon dari daun suji. Dan taukah? Tangan yang lembut tapi bertenaga akan menghasilkan klepon baik,” ungkapnya.

Minta mengamini klepon dan tradisi Jawa memiliki kaitan sangat erat karena bertahun kebelakang disuguhkan dalam jamuan atau upacara adat. Budaya Jawa terutama dalam sajian kuliner menurut dia erat dikaitkan dengan rasa manis sebagai wujud lokal genius.

“Saya sebagai orang yang konsentrasi di bidang makanan tradisional (Gastronomi) sangat sedih, bila ada ada anak bangsa yang tidak mengerti tentang makanan tradisional kita. Oleh karena itu usaha kita mencoba untuk menjelaskan baik dari bahan, cara mengolah, cara menyajikan, makna dan philosofi makanan, sampai food story,” tandas Minta.

Terkait adanya unggahan klepon bukan makanan Islami dan menyandingkannya dengan kurma, Minta menilai hal tersebut tidak pas secara etika. Unggahan yang kemudian menjadi ramai disebutnya hanya membuat sensasi semata dan jauh dari etika berbisnis.

“Seharusnya tidak seperti itu, pebisnis pun punya etika tidak boleh menjelek-jelekkan produk lain. Menurut saya, orang yang menghujat makanan lokal adalah pengkhianat sosiokultural,” tandas dia. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI