Klub Liga 2 Curhat Seperti “Anak Tiri”, Kesulitan Cari Sponsor Kini Dihadapkan Ancaman Degradasi

Editor: Agus Sigit

YOGYA, KRJOGJA.com – Jurnalis Olahraga Yogyakarta menggelar webinar bertajuk Kompetisi Ala Kadar, Yang Penting Jalan mengundang beberapa narasumber kontestan Liga 2 dan Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai operator kompetisi. Menarik, ternyata komunikasi dua hari melalui daring ini baru kali pertama tercipta di mana klub bisa berkomunikasi secara formal dengan operator kompetisi semenjak informasi bergulirnya liga mencuat ke publik.

Mewakili LIB, Direktur Operasional, Sudjarno mengatakan setelah memastikan kickoff Liga 1 pada 27 Agustus mendatang, kini pihaknya sedang mengejar agar Liga 2 bisa dilaksanakan pada pertengahan September. Namun begitu, ia belum bisa menjelaskan lebih detail kapan kepastian kompetisi kasta kedua Indonesia lantaran belum berkoordinasi dengan federasi dan klub.

“Kita rencanakan pertengahan September untuk Liga 2, namun masih menanti petunjuk dari federasi kemudian disampaikan ke klub peserta Liga 2,” tukas Sudjarno.

Dalam webinar, hadir pula dua narasumber dari Persiba Balikpapan, Gede Widiade dan Semen Padang FC, Effendi Syahputra. Kedua pimpinan klub Liga 2 ini mencurahkan isi hati karena merasa seperti anak tiri selama ini.

Gede misalnya, mengungkap perbedaan subsidi bagi tim Liga 1 dan Liga 2 yang jomplang padahal secara pengeluaran dan terpaan komersial hampir sama. Namun perbedaan muncul lantaran klub kesulitan mencari sponsor apalagi dengan format kompetisi yang dinilai tidak menarik karena sedikitnya pertandingan.

“Subsidi liga 1 bisa Rp 7,5 miliar sementara liga 2 hanya Rp 1,5 miliar saja. Padahal costnya tidak beda jauh dengan Liga 1. Naik pesawat biaya sama, naik kereta sama, hotel sama. Liga 2 seperti anak tiri atau istri kedua saja, dijadikan pelengkap saja. Ini kita sebagai objek saja,” keluh Gede yang sempat pula memimpin Persija dan Persebaya.

BERITA REKOMENDASI