Komunitas 60s Yogyakarta Tebarkan Budaya Tiblantas dan Cinta Bangsa

Editor: Agus Sigit

BANYAK cara dilakukan orang untuk ambil bagian dalam membangun kesadaran hukum dan tertib berlalu lintas. Seperti halnya kumpulan para pecinta kendaraan vespa yang tergabung dalam komunitas 60s Yogyakarta.

Terbentuk 4 Januari 2021, komunitas ini berkomitmen ingin menebar virus tertib berlalu lintas. Melalui kesamaan hobi, mereka juga ingin mengajak masyarakat untuk melestarikan budaya peninggalan bangsa. Salah satu caranya, dengan mengunjungi tempat wisata bersejarah dan bersih-bersih makam para pahlawan.

“Sebagai bangsa yang besar, kita harus menghargai jasa para pahlawan pejuang kemerdekaan. Pembersihan makam dan mendoakan para pahlawan, hanya salah satu contoh kecil bagaimana kita menghargai jasa mereka,” ujar Ketua 60s Yogyakarta, Satrio Pamungkas didampingi Humas, Aldo Praka.

Dikatakan Satrio, terbentuknya komunitas yang kini bermarkas di Tembi, Timbulharjo, Sewon Bantul ini, tanpa disengaja. Berawal dari lima orang pemilik vespa endog (sebutan untuk salah satu tipe vespa berbentuk bulat), yang sering touring bareng. Seiring berjalannya waktu, makin banyak yang ikut bergabung hingga beranggotakan puluhan orang dari berbagai latar belakang profesi. Mereka kemudian sepakat membuat komunitas yang kemudian diberi nama 60s Yogyakarta. Pemakaian nama 60s Yogyakarta, menurut Satrio, merujuk pada kesamaan memiliki vespa tipe bulat, mulai dari lampu pada stang dan tepong. Kendaraan tipe itu, merupakan vespa keluaran mulai tahun 1960 sampai dengan 1966, yang memiliki ciri khas bulat-bulat pada bagian tertentu. “Karena itu, kami sepakat menamai komunitas ini dengan 60s Yogyakarta,” ujarnya.

Satrio menyebut, tujuan dibentuknya 60s Yogyakarta adalah untuk menampung, menghimpun para pemilik dan pengendara vespa berbodi bulat. Mereka juga ingin memberikan kesadaran hukum dalam mentaati peraturan lalu lintas, menanamkan sifat jujur, cinta tanah air dan budaya serta membantu program pariwisata dan kebudayaan pemerintah.
Berbagai kegiatan, mereka lakukan sebagai upaya mewujudkan tujuan dibentuknya komunitas. Antara lain, menyelenggarakan pertemuan yang bermanfaat, darmawisata mengendarai vespa dan kegiatan kunjungan ke objek wisata baik maupun wisata bersejarah untuk menambah pengetahuan. Tak lupa, komunitas tersebut juga menyelenggarakan bakti sosial, bazar maupun pameran vespa. (Wahyu Priyanti)

BERITA REKOMENDASI