Komunitas Anak Muda Kumpul di Museum Sandi

Editor: Agus Sigit

PENGELOLA Museum Sandi di kawasan Kotabaru Yogya menggelar beberapa rangkaian acara dalam Hari Ulang Tahun (HUT) ke-9 museum setempat. Satu di antaranya, ‘Community Gathering’ yang diikuti belasan komunitas beranggotakan anak-anak muda di kompleks Museum Sandi, Jumat (28/7/2017). Komunitas yang hadir antara lain, Pit Dhuwur, Kampung Hompipah Yogyakarta (KHY), Saka Pariwata, Beatboxing of Jogja (Bejo), Drone Pilot Jogja (DPJ), Malam Museum, Rescue Taman dan Youth for Climate Change (YFCC) Yogya.

Menurut Koordinator Museum Sandi, Setyo Budi Prabowo SST, hadirnya komunitas-komunitas dengan anggota mayoritas anak muda ini ikut menyemarakan peringatan hari ulang tahun Museum Sandi. Sebagian dari komunitas bahkan diberi waktu mendemokan identitas masing-masing, misalnya Bejo melantunkan lagu-lagu tanpa alat musik, Pit Dhuwur demo ‘menaklukan’ sepeda ukuran tinggi dan DPJ memotret even tersebut dari udara  menggunakan pesawat drone.

“Dengan even seperti ini, kami berharap komunitas-komunitas di sini dapat membantu mensosialisasikan keberadaan Museum Sandi yang berdiri 29 Juli 2008 silam. Selain Community Gathering, kami juga mempunyai kegiatan lain seperti Treasure Hunt of Code dan sepeda gembira,”  jelas Setyo.

Mewakili Komunitas Bejo, Hasbi M menjelaskan, Bejo dapat menjadi wadah berkumpulnya pemilik hobi bermusik tanpa menggunakan alat-alat musik. Semua suara alat musik dapat ‘diimitasi’ lewat suara-suara yang keluar dari mulut. Bejo pun mendapat kesempatan menampilkan sejumlah lagu di hadapan para hadirin. Sedangkan Dikhi Setiawan dari Pit Dhuwur mengungkapkan, merasa senang bisa mendapat undangan dan hadir dalam Community Gathering tersebut. Satu di antaranya bisa saling berkenalan antar komunitas, memperluas persaudaraan serta menjalin kebersamaan. Bahkan pihaknya juga dapat lebih mengenalkan komunitasnya, yakni sebagai penggemar maupun pemilik pit dhuwur atau sepeda tinggi. Hal membanggakan lagi, ia dan teman-temannya mendapat waktu untuk demo menaiki pit dhuwur di halaman Museum Sandi.

Ramadhan dari HKY mengatakan,  dengan mengikuti even tersebut akan lebih mengenalkan komunitasnya kepada masyarakat luas. Ia membawa beberapa alat permainan tradisional, sebab komunitasnya banyak bergerak di bidang pelestarian permainan tradisional, antara lain egrang, bakiak, ular tangga, telpon-telponan dari kaleng, dakon serta dam-daman.

“Kami juga membuat beberapa alat permainan tradisional seperti bakiak, egrang, ketapel serta ular tangga,” ungkap Rama. (Yan)

BERITA REKOMENDASI