Komunitas Ancuku, Saudara Tak Harus Sedarah

Editor: Ivan Aditya

NAMA Ancuku, senantiasa identik dengan klub bulutangkis yakni Persatuan Bulutangkis (PB) Ancuku. Padahal, Ancuku tak hanya bulutangkis, melainkan ada aktivitas lain, semisal sosial dan budaya. Komunitas yang didirikan oleh Irjen Pol (Purn) Drs Haka Astana Mantika Widya SH dan berpusat di Jalan Tino Sidin Kadipiro Ngestiharjo Kasihan Bantul, membuka ruang dan kesempatan kepada siapapun bergabung, mengembangkan kreativitasnya.

Berdiri pada 10 Oktober 2010, Komunitas Ancuku diresmikan Kapolresta Yogyakarta Kombes Pol Atang Heradi. Bukan tanpa alasan jika peresmian dilakukan oleh pejabat kepolisian, lantaran banyak purnawirawan dan polisi aktif yang bergabung di Komunitas Ancuku. “Saya titip anggota yang bergabung di sini,” demikian Kombes Pol Atang Heradi berucap kepada Haka Astana ketika meresmikan Komunitas Ancuku.

Hingga saat ini, tak kurang 60 orang yang bergabung di Komunitas Ancuku. Bagi anggota yang memiliki kegemaran di olahraga bulutangkis, mereka memiliki wadah PB Ancuku. Sedangkan yang memiliki perhatian khusus terhadap seni dan budaya, wadahnya Paguyuban Seni-Budaya Ancuku. Perihal itu, bisa dimaklumi karena Haka Astana yang pernah menjadi Kapolda DIY memiliki hobi bermain bulutangkis. Selain itu, sebagai salah satu kerabat Kraton Yogyakarta, Haka Astana juga memiliki kepedulian dalam melestarikan dan mengembangkan seni dan budaya tradisional.

Haka Astana berkeinginan tetap bisa memberikan yang terbaik kepada masyarakat. Baginya, setelah pensiun seseorang masih bisa mengabdi pada masyarakat. Mengenai hal itu, Haka Astana membuktikan dengan membangun gedung olahraga yang cukup representatif untuk bermain bulutangkis. Tak hanya itu, Haka Astana juga menyatukan orang-orang yang memiliki kepedulian tentang kesenian dan kebudayaan tanah air. Salah satunya, dengan menyelenggarakan wisata religi di tempat bersejarah, semisal mengunjungi petilasan para wali, candi-candi peninggalan kerajaan Hindu maupun Budha, serta peninggalan Kerajaan Mataram Islam.

Haka Astana cukup piawai dalam menggabungkan kegiatan olahraga dengan seni budaya. Sebagai misal, ketika PB Ancuku melakukan lawatan ke Polres Jepara, tak hanya sekadar kegiatan bulutangkis yang dilakukan, melainkan juga melakukan napak tilas tempat-tempat peninggalan Ratu Kalinyamat. Selain itu, rombongan Komunitas Ancuku juga ‘dibawa’ ke Masjid Demak dan Makam Sunan Kalijaga. “Kita tidak boleh melupakan sejarah, karena manusia hadir di bumi tempat berpijak tentu tidak lepas dari sejarah,” ujar Haka Astana.

Haka Astana mengemukakan, keberadaan Kraton Yogyakarta tidak lepas dari mata rantai Kerajaan Demak, Kerajaan Pajang, dan Kerajaan Mataram (Islam). Proses pergantian raja dari Kerajaan Demak, Kerajaan Pajang, dan Kerajaan Mataram tidak terjadi secara terpisah, melainkan memiliki keterkaitan. Menurut Haka Astana, sejarah seperti itulah yang mampu merekatkan satu daerah dengan daerah lainnya. Pasalnya, saudara tidak harus sedarah tetapi bisa lantaran sejarah.

BERITA REKOMENDASI