Konsistensi Sistem Zonasi Butuh Kejelasan

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Kebijakan Kemendikbud untuk memberlakukan sistem zonasi dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB), perlu diimbangi dengan kejelasan dan kajian mendalam. Khususnya yang berkaitan dengan konsistensi dari adanya kebijakan tersebut. Apakah nantinya kebijakan zonasi tersebut akan diberlakukan terus atau tidak,sehingga tidak hanya terkesan sesaat.

”SMA Negeri 1 Yogyakarta telah menyiapkan proses pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan siswa. Termasuk soal penguatan dalam pendidikan karakter, dan pelibatan intensif orangtua siswa serta masyarakat,” kata Kepala SMAN 1 Yogyakarta, Rudy Prakanto MEng.

Menurut Rudy, kebijakan zonasi merupakan regulasi yang telah ditetapkan oleh pemerintah di tingkat pusat dengan permendikbud no 17 tahun 2017 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru. Sedangkan ditingkat Pemerintah Daerah DIY dengan Pergub 7 tahun 2018 tentang Penerimaan Siswa Baru.

Secara institusional SMANegeri 1 Yogyakarta mengikutinya dan taat dengan aturan tersebut. Rasionalitas yang dijadikan dasar untuk penerapan sistem zonasi dalam PPDB adalah pemerataan kualitas sekolah dengan asumsi pemerataan input siswa yang merata di setiap sekolah.

Persoalan yang mungkin perlu dicermati adalah bahwa input siswa itu hanya salah satu faktor yang mungkin dapat meningkatkan kualitas sekolah, lebih dari itu faktor yang sangat penting adalah tata kelola, pembiasaan dan kultur serta lingkungan sekolah. Sistem zonasi ini menjadi terpersepsikan bahwa siswa SMP mengalami pembatasan proses pemilihan sekolah pada lingkup tempat tinggalnya (sesuai KTP dan KK orangtuanya).

Sementara Waka Kesiswaan SMAN 9 Yogyakarta Budi Sarwanto SAg berpendapat ,terkait zonasi dalam PPDB perlu diperhatikan ada sekolah yang lokasinya berdekatan. SMAN 9 berdekatan dengan SMAN 6 dan SMAN 3 Yogyakarta.

Kemungkinan berpengaruh pada input siswa, nilai yang kurang bagus kalau berada di radius zona, anak tersebut bisa diterima. Kemungkinan pula perlu penambahan radius zonasi terkait dengan jumlah siswa karena ada tiga SMA Negeri yang lokasinya berdekatan. Tetapi Budi Sarwanto memang melihat ada beberapa hal yang menguntungkan, diantaranya ada pemerataan dalam hal input siswa.

Sedangkan Kepala SMA Taman Madya Jetis Yogyakarta Ermayanti MPd melihat kemungkinan siswa di sekitar sekolah tersebut semua terserap ke sekolah negeri di dekatnya. SMA Taman Madya Jetis berada dekat dengan SMAN 11 Yogyakarta. Jadi berapa pun jumlah nilai siswa, tentu akan mengutamakan masuk ke sekolah negeri dan kemungkinan besar diterima. (Ria/War)

BERITA REKOMENDASI