Kontraksi Ekonomi DIY Picu Meningkatnya Pengangguran

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJOGJA.com – Terkontraksinya pertumbuhan ekonomi di DIY pada Triwulan I dan Triwulan II 2020 berdampak pada turunnya penyerapan tenaga kerja di DIY dan meningkatnya pengangguran. Selain itu, berakhirnya pembangunan infrastruktur strategis di DIY dan pergeseran musim tanam sebagai akibat dari mundurnya musim hujan 2019/2020 menyebabkan turunnya penyerapan tenaga kerja pada beberapa lapangan usaha utama.

“Penduduk usia kerja di DIY tumbuh melambat. Penduduk usia kerja di DIY tercatat sejumlah 3.042,64 ribu orang pada Februari 2020 atau tumbuh melambat 1,14 persen (yoy) jika dibandingkan dengan Februari 2019 yang tumbuh sebesar 1,42 persen (yoy),” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY Hilman Tisnawan di Yogyakarta, Jumat (21/8).

Hilman mengatakan sejalan dengan itu, jumlah angkatan kerja di DIY juga tumbuh terkoreksi. Jumlah penduduk angkatan kerja tercatat sebanyak 2.160,74 ribu orang atau 71,02 persen dari total penduduk usia kerja. Jumlah penduduk angkatan kerja pada periode laporan tercatat tumbuh -1,83 persen (yoy) atau lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat tumbuh 2,75% (yoy).

“Terkontraksinya pertumbuhan ekonomi di DIY pada Triwulan I dan Triwulan II 2020 berdampak pada turunnya penyerapan tenaga kerja di DIY dan meningkatnya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) DIY pada Februari 2020 tercatat 3,38 persen yang lebih tinggi dari Februari 2019 sebesar 2,86 persen,” katanya.

Konstruksi Proyek Strategis Nasional (PSN) di DIY, antara lain Yogyakarta International Airport (YIA) atau Bandara Internasional Yogyakarta (BIY), underpass, dan lainnya yang telah selesai dibangun pada 2019 berdampak pada kontraksi penggunaan tenaga kerja di lapangan usaha konstruksi sebesar 6,09 persen dari persentase penduduk bekerja di DIY pada Februari 2020. Penurunan penyerapan tenaga kerja juga ditunjukkan pada lapangan usaha pertanian akibat mengalami kemunduran masa panen raya padi dari Maret menjadi April 2020 akibat mundurnya musim hujan 2019/2020. Hal ini sejalan dengan lebih rendahnya pendapatan yang ditunjukkan dari penurunan Nilai Tukar Petani (NTP).

BERITA REKOMENDASI