Korban Penipuan Nmax Harpindo Jaya Lapor Lembaga Ombudsman

YOGYA, KRJOGJA.com – Dua korban dugaan penipuan inden motor Yamaha Nmax di diler PT Harpindo Jaya Cabang Jalan Monjali melapor ke Lembaga Ombudsman DIY, Senin (18/2/2019) siang. Keduanya berharap uang yang telah disetorkan ke kepala diler saat itu yang akhirnya menjadi tersangka kembali lantaran motor yang dinanti tak kunjung tiba. 

Andreas Sigit, salah satu korban mengaku laporannya ke Lembaga Ombudsman DIY berharap agar uang yang telah disetorkannya sejumlah Rp 27.200.000 untuk membeli motor Nmax pada bulan November 2018bisa kembali. Menurutya, setelah kepala diler yakni Indra ditangkap dan dalam proses pengadilan atas laporan dari perusahaannya sendiri yakni PT Harpindo Jaya, diler tersebut seolah lepas tangan terhadap kerugian konsumen. 

BACA JUGA :

Wartawan Kena Tipu Kepala Diler Yamaha, NMAX Bablas

Mengaku Wartawan, Peras Pengusaha Puluhan Juta Rupiah

"Jawaban diler yang sempat ditemui bilang menyerahkan kasus ini ke kepolisian dan akan menunggu dari pengadilan. Biarkan hakim memutuskan kami membayar atau tidaknya. Ya jelas itu merugikan kami sebagai konsumen, seperti hanya berharap saja tanpa jaminan," ungkapnya usai laporan. 

Kekecewaan atas jawaban pihak diler menurut Sigit semakin memuncak lantaran sebenarnya transaksi dan penyerahan uang pembelian motor terjadi di kantor resmi dengan kuitansi yang menggunakan cap perusahaan. “Kami sebagai konsumen ya jelas tahunya itu resmi, atasnama perusahaan karena transaksinya di diler dengan kepala dilernya. Tapi setelah dikasuskan kok pihak diler seakan tidak merespon keluhan konsumen yang dirugikan. Saya tiga tahun menabung untuk beli motor ini tapi ternyata dikecewakan,” imbuhnya lagi. 

Korban lain yakni Ria Triani (32) warga Maguwoharjo sedikit beruntung lantaran dari total uang yang disetorkan Rp 30.700.000, Rp 15 juta diantaranya telah dikembalikan. Namun begitu, sisa uang yang seharusnya kembali tak kunjung mendapat kepastian dari pihak diler. 

“Kami melapor ke Lembaga Ombudsman karena Harpindo tidak kunjung merespon dan malah bilang harus menunggu keputusan pengadilan. Tapi ya kami tidak punya jaminan sehingga melapor ke Lembaga Ombudsman dengan harapan sisa uang saya Rp 15 juta bisa kembali,” ungkapnya berharap. 

Sementara Komisioner Lembaga Ombudsman DIY Suki Ratnasari segera melakukan rapat kasus setelah mendapat pengaduan dari dua korban. Namun begitu, setelah mendengarkan kronologi dari dua korban, Lembaga Ombudsman menemukan dugaan pelanggaran etika usaha yang dilakukan PT Harpindo Jaya. 

“Kami akan lakukan rapat dan tindaklanjuti ke PT Harpindo. Kalau prinsip jual beli maka mengikatnya ke PT bentuk badan hukum artinya siapapun yang ada di situ bertindak atasnama PT. Dalam peristiwa jual beli apalagi cash itu ada uang ada barang. Kalau belum ada barangnya uang tidak semua diberikan. Secara garis besar ada etika usaha yang diduga dilanggar,” ungkapnya. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI