Kritik Sosial di Balik Fenomena ‘Om Telolet Om’

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA (KRjogja.com) – Awal minggu ini, media sosial Indonesia sedang dihebohkan fenomena Om Telolet Om sebuah istilah panggilan dari anak-anak dan remaja yang meminta supir bus agar membunyikan klaksonnya.

 

Sosiolog Derajad Sulistyo Widyharto, SSos MSi menangkap fenomena ini dalam dua segi, yakni dari segi pelakunya dan segi lingkungannya. Pertama, dari segi pelaku yang sebagian besar anak muda. Ia memandang secara positif ini merupakan upaya pembuktian bahwa mereka mampu menggunakan sosial media untuk mempromosikan apa yang sedang ramai diperbincangkan. "Ternyata mendunia. Kaum muda mampu melakukan inovasi yang akhirnya menjadi global," kata Dosen Sosiologi UGM ini.

Kedua dari segi lingkungan, khususnya Jogja sebagai destinasi wisata. Ia beranggapan fenomena ini sebagai respon kaum muda terhadap apa yang dia rasakan dan lihat. Jogja semakin macet karena banyak wisatawan yang masuk ke Jogja menggunakan bus. Sehingga apa yang dapat dinikmati oleh warga Jogja dari wisatawan yang berkunjung hanyalah suara klakson saja.

"Menurut saya dari segi sosiologi sebenarnya Om Telolet Om mengandung kritik," ujar Derajad saat dihubungi KRjogja.com.

Ia berpendapat bahwa fenomena ini menandakan kritik kaum muda terhadap lingkungannya. "Mereka tidak merespon pada sesuatu yang bersifat substantif yang lebih mengarah pada kepentingan publik. Justru mereka merespon pada hal yang remeh-temeh," Derajad menambahi.

Pemerintah perlu menangkap fenomena ini. "Pemerintah bersifat reaktif terus, tetapi tidak responsif. Ibarat kita gatal-gatal yang diobati cuma bagian tubuh yang gatal, tidak membersihkan seluruh tubuh,"terangnya.

Responsif  yang ia maksud dapat dilakukan dengan cara mengembalikan fitrah Jogja sebagai kota pelajar. Sehingga kedepannya pembangunan Jogja diarahkan untuk pelajar dan kaum muda.

Cara lain agar pemerintah tidak reaktif adalah dengan adanya kebijakan kepemudaan yangg komprehensif di Jogja. Misal peraturan gubernur tentang kepemudaan. Ia menuturkan bahwa Jakarta dan Banten sudah mempunyai peraturan tersebut, sedang Jogja yang notabene sebagai kota pelajar dan mahasiswa justru belum. (mg-22)

BERITA REKOMENDASI