KSP SB Digeduruk Nasabah, Simpanan Rp 800 M Sulit Dicairkan

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Merasa kesal 1,5 tahun lebih dana tidak bisa diambil/dicairkan, puluhan nasabah Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Sejahtera Bersama (SB) menggeruduk Kantor Cabang KSP SB, Senin (27/09/2021) di Jalan Hayam Wuruk Lempuyangan Yogya. KSP yang berpusat di Bogor ini membuka 4 cabang di Yogya dengan sekitar 10.000 nasabah/anggota.

Diperkirakan hingga Rp 800 miliar dana milik anggota di DIY hingga saat ini macet, tidak bisa dicairkan. “Anehnya, tanpa pemberitahuan resmi dana saya sebesar Rp 400 juta ketika saya printkan, buku tabungan raib, hanya tersisa Rp 20.000 saja,” keluh nasabah Ari yang dibenarkan nasabah-nasabah lainnya. Mereka resah dana yang susah payah dikumpulkan dan ditabung di KSP SB untuk investasi dan masa depan seolah hilang tanpa ada pemberitahuan atau bukti dari KSP BS, bahwa dana mereka diamankan.

Branch Manager (BM) KSP SB Nur Syamsiah yang menemui nasabah dicecar dengan pertanyaan dan teriakan tidak puas. “Kami hanya mengikuti Pusat, saat ini sudah dibuat skema pengembalian dana yang berurutan jadwalnya. Sedangkan dana yang didebet milik nasabah, kami pastikan aman karena masuk PKPU (penundaan kewajiban pembayaran utang) untuk penyelesaian pembayaran/pengembalian dana nantinya,” ucap Nur Syamsiah.

Seperti diketahui PKPU adalah prosedur yang dapat dilakukan debitur untuk menghindari kepailitan. Nasabah tetap berkeras untuk bisa komunikasi langsung dengan Pusat karena selama ini mereka merasa selalu diombang-ambingkan ketika menanyakan nasib dana yang disimpannya. Beberapa perwakilan nasabah secara terbatas kemudian diajak komunikasi video call dengan pengurus pusat.

Nasabah Zaini, menyebutkan tahun 2019, sudah mulai kesulitan mencairkan dana dan akhirnya pada Maret 2020 dengan alasan terimbas Covid-19, nasabah tidak bisa mencairkan uang yang disimpan di KSP SB. “Kerugian yang diderita nasabah dari kisaran puluhan juta hingga miliaran rupiah,” jelasnya.

Beberapa nasabah yang ditemui KR mengaku terpukul dan bertekad untuk mengejar agar dana investaai untuk masa depan. mereka bisa dikembalikan. “Kami akan kejar sampai Bogor,” tegas Neli yang dananya macet Rp 300 juta.

Neli mengaku menginvestasikan dana bukan karena tergiur bunga yang tinggi, tapi pada promo di majalah yang ditunjukkan marketing yamg menyebutkan KSP SB sebagai KSP Terbaik dari Kemenkop RI. Sementara nasabah Yekti, mengaku sebagai ahli waris nasabah yang sudah meninggal juga dana dari dua anaknya ada di KSP SB. “Bayangkan susah payah bekerja cari uang, terkumpul kemudian ditabung malah tidak bisa dicairkan sampai saat ini,” keluhnya.

Demikian pula nasabah Sriyantini. seorang janda berutang di bank nasional untuk anaknya yang keluar dari kerja di Kalimantan pulang dan kemudian kuliah ternyata tidak bisa, karena masih harus mengangsur kredit bank.

“Keluar kerja pulang Yogya anak saya menyimpan Rp 110 juta hasil kerja dan saya tambah Rp 150 juta pinjam di bank, ternyata saatnya kuliah dana tak bisa dicairkan,” ungkapnya sedih. (Vin)

BERITA REKOMENDASI