Kuliner ‘Mblusuk’ di Bantul Incaran Pecinta Makanan Tradisional

Editor: Ivan Aditya

BAGI pecinta kuliner, lokasi bukan menjadi penghalang demi mendapat kenikmatan. Tempat boleh saja ‘mblusuk’ (berada di dalam perkampungan), namun soal cita rasa ditanggung kelezatannya.

Di Bantul ada beberapa kuliner tradisional yang berada di dalam perkampungan. Pemiliknya sengaja mempertahankan keaslian sajian maupun tempat agar penggemar kuliner bisa merasakan nuansa tradisional yang sudah tersaji sejak lama.

Walau berada di tengah perkampungan namun tetap saja tempat ini dapat ditemukan pecinta makanan. Berikut kuliner ‘mblusuk’ yang berada di Bantul.

Bakmi Mbah Mo

Bakmi Mbah Mo ini berada di Dusun Code, Kelurahan Trirenggo, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul. Kuliner legenadris ini menyajikan menu bakmi godog maupun bakmi goreng khas Bantul.

Bakmi Mbah Mo mulai buka pada tahun 1986 yang dirintis Atmo Wiyono. Saat ini Bakmi Mbah Mo sudah diteruskan generasi keempat Atmo Wiyono. Bakmi Mbah Mo tidak membuka cabang di tempat lain dan tetap mempertahankan mengolah sajian dengan anglo (tungku tradisional Jawa) berbahan bakar arang.

Baik untuk bakmi godog maupun goreng dibuat langsung setelah pemesanan sehingga rasa hangatnya bertahan lama. Dengan hanya menggunakan dua anglo yang dipegang dua juru masak, tak heran jika banyak pembeli harus mengantre untuk mendapat satu porsi Bakmi Mbah Mo.

Manut Lele Mbah Marto

Sesuai namanya, sajian mangut lele ini dirintis oleh Mbah Marto. Hingga saat ini kuliner yang berada di Dusun Saraban, Kelurahan Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul masih diolah sendiri oleh Mbah Marto dengan dibantu beberapa orang pekerjanya.

Beda dengan menu mangut lele lainnya yang digoreng, Mbah Marto mengolah lele dalam kuliner ini dengan cara diasap alias dipanggang. Proses pengasapannya pun tidak dengan kayu, melainkan menggunakan bilah bambu yang dipotong tipis-tipis. Pemanggangan menggunakan potongan bambu ini akan menjaga api dalam kondisi sedang sehingga lele tidak gosong dan matang secara merata.

Selain mangut lele, di tempat ini juga menyajikan menu gudeg. Uniknya di tempat ini, pembeli mengambil sendiri manu yang diinginkan langsung di dapur dan akan dilayani Mbah Marto.

Sate Klathak Pak Bari

Kuliner satu ini khas dari wilayah Jejeran, Kelurahan Wonokromo, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul. Sajian sate kambing dengan rasa asin dan ditusuk menggunakan ruji sepeda ini bernama Sate Klathak.

Di Jejeran banyak warung menyajikan kuliner Sate Klathak yang dinamai sesuai pemiliknya, namun ada satu tempat yang cukup unik sehingga Rangga dan Cinta dalam Ada Apa Dengan Cinta (AADC 2) pun singgah di tempat ini. Terletak di dalam Pasar Jejeran, Sate Klathak ini milik Pak Bari yang konon merupakan pelopor dan pencetus pertama kuliner lezat tersebut.

Karena letaknya di dalam pasar, Sate Klathak Pak Bari akan buka mulai sore saat aktivitas pasar mulai sepi hingga dini hari. Selain Sate Klathak, Pak Bari juga menyajikan menu lain olahan kambing seperti gule, tongseng hingga tengkleng.

Sambel Welut Pak Sabar

Kuliner ‘ndelik’ yang lain berada di Dusun Dokaran, Kelurahan Tamanan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul. Para pecinta kuliner mengenal kuliner ini dengan sebutan Sambel Welut Pak Sabar.

Sambel Welut Pak Sabar menyajikan berbagai menu olahan belut seperti belut goreng, sambel belut, oseng belut dan mangut belut. Yang membuat beda olahan belut di warung Pak Sabar ini yakni bagian tulang pada belut dihilangkan sehingga tekstur dagingnya akan terasa.

Selain itu di Sambel Welut Pak Sabar ini pembeli akan dapat menikmati sajian dengan porsi besar. Di tempat ini belut dipesan bukan secara porsi, melainnya dengan ukuran berat kilogram.

Ayam Goreng Mbah Cemplung

Di Dusun Semanggi, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul terdapat kuliner yang cukup dikenal, yakni Ayam Goreng Mbah Cemplung. Tempat ini ramai dikunjungi oleh pemburu kuliner yang menggemari menu-menu olahan ayam.

Disebut Mbah Cemplung karena penjualnya memang seorang simbah (nenek) yang berasal dari kampung Cemplung dekat pabrik Madukismo Bantul. Usaha ayam goreng Mbah Cemplung dirintis tahun 1980 dengan konsep warung makan, karena kelezatannya tempat ini terus berkembang hingga dikenal sampai sekarang.

Ciri khas Ayam Goreng Mbah Cemplung yakni menggunakan ayam kampung berukuran besar yang diolah dengan rasa gurih asin. Sajian ini akan lebih lezat dengan ditemani colekan sambak khas menu rahasia Mbah Cemplung serta lalapan. (Van)

BERITA REKOMENDASI