Lagu ‘Menuntut Ilmu’ Jadi Penyemangat Wagimin Membuat Blangkon

IMPIAN Wagimin untuk punya rumah produksi blangkon sendiri akhirnya terwujud. Waktu 40 tahun untuk menggeluti blangkon bukanlah waktu yang singkat. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana ia memulai usaha.

“Suatu hari saya mengadakan rapat dengan teman-teman perajin blangkon di tempat Pak Slamet. Intinya kami ingin menjalani persahabatan sampai tua. Soal mandiri mendirikan usaha, kami semua juga pasti ingin. Tapi kesepakatan kami, kami tidak akan bersaing hingga bermusuhan,” tuturnya.

Pada 18 November 1976, Wagimin resmi menjalankan usaha pembuatan blangkon secara mandiri. Begitu Wagimin keluar untuk mandiri mendirikan bisnis pembuatan blangkon, satu persatu teman-teman Wagimin mengikuti jejaknya. Untuk teman-temannya yang juga ingin mandiri, Wagimin memposisikan dirinya menjadi seorang mentor.

Selain menjadi mentor atau pembimbing bagi teman-temannya, Wagimin juga terus mengasah kemampuannya dalam mengerjakan blangkon yang rapi. “Saya bikin ukuran terbesar dan terkecil, terus saya mengusahakan bahan, 1 kain jarit waktu itu Rp 700. Tetron untuk dalemannya, per meter Rp 80. Saya waktu itu baru mampu beli 5 meter, kain jaritnya dua. Saya potong sendiri polanya, proses sendiri, kerjakan sendiri. Malemnya sudah dibantu istri soal benang,” kenangnya.

Ketika masa-masa awal mengerjakan pesanan blangkon seorang diri, Wagimin mulai mengerjakan produksi pada pukul 7 pagi hingga 5 sore. Selama kurun waktu itu, ia dapat membuat 15 biji blangkon gaya mataram secara manual.

“Untuk blangkon yang lipatannya banyak itu tahun 1981 saya sudah bisa membuat dengan rapi tapi produksinya belum dipasarkan. Karena pembuatan blangkon itu lama, saya takut malah tidak bisa menepati janji pada pelanggan blangkon mataram,” sambungnya.

Pekerjaan membuat blangkon bisa jadi akan membosankan bagi sebagian orang. Namun tidak bagi Wagimin. Ia punya cara tersendiri untuk mengusir kebosanannya. Wagimin memutar lagu berjudul 'Menuntut Ilmu' yang dinyanyikan Hj Nur Aisah Jamil.

Lagu berirama kasidahan tersebut membuat ia selalu bersemangat mengerjakan blangkon.  Kepada krjogja.com, ia mempersilakan untuk mendengarkan lagu inspirasinya tersebut melalui laptopnya.

Salah satu mitra kerja tengah mengerjakan pesanan blangkon (Foto : Kurnia Putri Utomo)

Tahun 1979, Wagimin memiliki mitra kerja sebanyak 9 orang yang masih merupakan kerabatnya, untuk membantunya dalam proses produksi. Kini, Omah Batik dan Blangkon yang terletak di depan SPBU Jl. Bugisan tersebut melaksanakan kegiatan produksinya pada pukul 8 pagi setiap hari Senin. Sementara hari selanjutnya kegiatan produksi dimulai pada pukul 9 pagi. Kegiatan produksi biasanya selesai pada pukul 3 atau 4 sore.

"Hari Senin lebih awal dimulai bukan karena pesanan lebih banyak. Alhamdulillah setiap hari pesanannya banyak," tutur Wagimin.

Setiap harinya, Wagimin beserta 22 mitranya mendapat 25-30 pesanan blangkon. Untuk menyelesaikan pembuatan blangkon KW 1 (model mataram) dan KW 2 (model surakarta) memerlukan waktu yang berbeda-beda.

"Kalau yang KW1 wirunya lebih halus (lebih banyak lipatannya), sehari hanya bisa selesai satu per orang. Kalau yang KW2, sehari bisa selesai tiga buah per orangnya," ungkap pria yang memiliki 5 anak tersebut.

Putra kedua Wagimin, Wabut Winarto turut membantu Wagimin untuk mengurus bagian administrasi. Ia mengungkapkan, ada berbagai  strategi yang ditetapkan Wagimin untuk menunjang produksi blangkonnya.

"Di belakang ruang ini (ruang tamu) adalah ruang khusus membuat batik, niat Bapak saya, supaya rumah yang di sini (Jalan Bugisan) untuk full produksi, supaya memproduksinya lebih cepat dan efisien," papar pria yang biasa disapa Winarto tersebut. (Salsabila Anissa)

Sebelumnya :

Wagimin Pembuat Blangkon Keluarga Soeharto

Restu Ayah Hanya Kalau Wagimin Jadi Pembuat Blangkon

Sebelum Tidur Wagimin Hafalkan Cara Membuat Blangkon

Ini Lagu yang Diputar Ketika Wagimin Membuat Blangkon

BERITA REKOMENDASI