Lampah Bisu Kawula Mataram Bawa Pesan Perdamaian

Editor: Ivan Aditya

Adat istiadat tak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat Jawa, khususnya Yogyakarta. Luhurnya nilai budaya senantiasa dijunjung tinggi dan mengalir dalam nadi setiap warganya. Kraton Yogyakarta sebagai pusat peradaban kebudayaan Jawa menjadi panutan yang mampu menyatukan masyarakat bumi Mataram. Ritual Lampah Mubeng Beteng yang selalu dilaksanakan tiap malam 1 Suro sarat makna membawa pesan persatuan dan perdamaian bagi bangsa Indonesia.

Lantunan Kidung Macapat Dhandhanggula Padasih sayup terdengar dari Bangsal Ponconiti Kraton Yogyakarta malam itu. Dengan suara lirih para Abdi Dalem melantunkan kidung yang bermaknakan Surat Al Fatihah tersebut dengan dipimpin seorang pemuka kraton. Sesekali para Abdi Dalem yang rata-rata berusia lebih dari paruh baya ini merapikan pakaian peranakan khas Jawa dari duduk silanya sambil berusaha melawan kantuk agar tetap terjaga hingga malam nanti.

Semerbak aroma dupa setia menemani jalannya ritual, seolah menambah nilai sakral malam yang dikeramatkan oleh masyarakat Jawa itu. Lonceng Brajanala tiap jam didentangkan keras memecah malam menandakan waktu telah mendekati penghujung hari.

Malam itu merupakan hari terakhir dalam kalender Jawa untuk kemudian berganti datangnya tahun yang baru. Bertepatan dengan malam Jumat Kliwon atau dalam kalender Masehi jatuh pada tanggal 22 September 2017, masyarakat Jawa memperingati sebagai hari datangnya 1 Suro 1951 Dal.

Sudah menjadi tradisi turun-temurun di Kraton Yogyakarta untuk memperingati pergantian tahun dengan suatu prosesi yang disebut Lampah Mubeng Beteng. Ritual sarat makna ini tak pernah dilewatkan sekalipun oleh masyarakat. Baik pria atau wanita, muda hingga tua semuanya berkumpul ingin menjadi saksi malam yang dinantikan itu.

Dalam bahasa Jawa, Lampah berarti berjalan dan Mubeng Beteng berarti mengelilingi benteng. Jadi jika diterjemahkan Lampah Mubeng Beteng berarti ritual berjalan kaki mengitari wilayah Kraton Yogyakarta dengan melewati benteng-benteng yang menjadi sudut batas kerajaan ini.

Para Abdi Dalem bersama warga akan menjalani ritual yang telah dilaksanakan jauh sebelum Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) I bertahta tersebut dengan berjalan kaki menempuh jarak sekitar 4 km. Dalam ritual Lampah Mubeng Beteng ini para peserta dilarang untuk berbicara alias harus membisu selama prosesi dilaksanakan.

Bentuk Introspeksi Diri

Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi memimpin langsung ritual ini. Dengan balutan kebaya warna hijau, putri sulung Sri Sultan HB X ini memohon kepada Tuhan agar Kraton Yogyakarta tetap lestari sehingga senantiasa mampu mengayomi rakyatnya.

Makna dari ritual yang juga sering disebut Lampah Bisu ini menurut Mangkubumi yakni sebagai media introspeksi diri terhadap apa yang telah dilakukan setahun lalu. Berjalan kaki tanpa berbicara menyiratkan arti agar masyarakat selalu fokus dalam setiap langkah guna menatap masa depan yang lebih baik.

“Maknanya untuk introspeksi diri, mana yang baik dan mana yang tidak baik. Minta petunjuk agar kedepan lebih baik dan diberikan kesehatan, keselamatan serta berkah dari Allah,” ucap Mangkubumi.

Rasa bangganya disampaikan Mangkubumi kepada seluruh masyarakat Yogyakarta yang telah melestarikan budaya Lampah Mubeng Beteng ini. Ia berharap ritual yang telah dilaksanakan sejak ratusan tahun lalu ini akan terus ada dan dimaknai untuk mempererat tali persatuan serta memperkokoh nilai budaya yang dimiliki Kraton Yogyakarta.

GKR Mangkubumi menyerahkan bendera merah putih kepada Abdi Dalem sebagai cucuk lampah

Ia juga berharap apa yang dilakukan masyarakat Yogyakarta ini dapat membawa pesan damai bagi bangsa. Dengan kerukunan dan perdamaian serta tak meninggalkan nilai-nilai luhur budaya maka akan menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang besar di mata dunia.

“Untuk negara semoga semakin dimudahkan dalam menghadapi rintangan dan dikurangi beban yang ada. Bagi masyarakat Indonesia semoga menjadi lebih baik lagi dan diberi keselamatan,” ujarnya.

Tak lama setelah Mangkubumi mengakhiri doanya, Lonceng Brajanala berdentang sebanyak 12 kali memecah keheningan 1 Suro. Waktu tepat menunjuk pukul 00.00 WIB dan Lampah Bisu akan segera dimulai.

Mangkubumi terlebih dahulu menyematkan bunga kanthil dan menyerahkan bendera merah putih kepada seorang Abdi Dalem. Bendera merah putih menjadi cucuk lampah atau pandu sebelum nantinya diikuti Abdi Dalem lain pembawa klebet alias panji-panji prajurit Kraton Yogyakarta.

Bunga kanthil warna putih yang disematkan pralambang kesucian hati para Abdi Dalem dalam mengabdi kepada Kraton Yogyakarta. Sedangkan bendera merah putih berada di baris paling depan memimpin panji-panji kerajaan bermakna jika kraton berikut masyarakat Yogyakarta senantiasa setia membela bangsa dan negara Indonesia.

Dengan penuh kemantapan hati para Abdi Dalem bersama ribuan masyarakat menembus malam memulai laku batin Lampah Mubeng Beteng. Sepanjang jalan tak sepatah kata terucap dari mulut mereka, yang ada hanyalah penyatuan jiwa untuk menyambut datangnya 1 Suro.

Setiap melewati benteng peninggalan kraton yang kini jumlahnya hanya tinggal tiga bangunan itu, para Abdi Dalem kian merapatkan barisan seolah tak ingin ada jarak dengan warga yang telah setia mengikuti prosesi ini. Dari sinilah terlihat bagaimana nilai kearifan budaya Kraton Yogyakarta mampu menyatukan masyarakat dalam kerukunan dan perdamaian.

Setelah kurang lebih satu jam perjalanan rombongan tiba kembali di Bangsal Ponconiti dan seluruh prosesi telah selesai dilalui. Tanpa menghiraukan peluh di badan para Abdi Dalem dan warga saling berjabat serta berpeluk erat, berharap waktu akan mempertemukan mereka kembali di tempat ini tahun mendatang.

Kearifan Lokal Cegah Paham Radikal

Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) DIY, Abdul Muhaimin menyatakan, kearifan lokal merupakan benteng kuat untuk manangkal paham radikal dan terorisme. Pendekatan melalui sisi budaya terbukti mampu merangkul masyarakat untuk menyampaikan pesan persatuan dan nilai luhur bangsa.

“Penyampaian pesan dengan cara yang lunak melalui tutur kata budaya ternyata lebih mudah diterima masyarakat. Semangat persatuan masyarakat akan muncul sendirinya dan mampu menjadi kekuatan nasional menangkal paham ekstrim maupun terorisme,” tegas Muhaimin.

Abdi Dalem bersama warga melantunkan Kidung Macapat Dhandhanggula Padasih

Munculnya gerakan radikal menurutnya memiliki banyak latar belakang, namun jika ditarik kesimpulan muaranya ada pada rendahnya stabilitas suatu negara. Permasalahan itu tak hanya dialami Indonesia saja, melainkan juga seluruh negara di dunia.

Yang perlu dilakukan bangsa ini untuk menangkal munculnya paham radikal dan terorisme adalah dengan meningkatkan stabilitas bangsa, salah satunya dengan memperkuat persatuan dan kesatuan masyarakatnya. Ragam budaya yang dimiliki jadi modal awal yang dapat dipergunakan bangsa ini untuk menjawab tantangan zaman.

Namun demikian ia mengingatkan agar kecintaan terhadap budaya tak lantas menimbulkan fanatisme kedaerahan yang justru dapat memecahbelah bangsa. Keragam budaya yang dimiliki bangsa ini hendaknya mampu menyatukan masyarakat berbagai daerah dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. (Ivan Aditya)

BERITA REKOMENDASI