Larangan Perayaan Natal di Dharmasraya-Sijunjung, Ini Sikap Uskup Agung Semarang

YOGYA, KRJOGJA.com – Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang, Monsinyur Robertus Rubiyatmoko menyayangkan insiden larangan perayaan Natal yang terjadi di Kabupaten Dharmasraya dan Sijunjung, Sumatera Barat yang menyita perhatian beberapa waktu terakhir. Hal tersebut menurut Romo Ruby tak seharusnya terjadi di Indonesia. 

Kepada wartawan usai bertemu Sri Sultan HB X, Romo Ruby menyampaikan bawasanya Indonesia dikenal menjunjung Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Uskup Semarang tersebut tak serta-merta memberikan justifikasi pada pelarangan tersebut dengan latarbelakang yang harus ditelaah lebih lanjut. 

“Apa yang jadi alasan mereka, perjuangan mereka, itu yang perlu kita lihat lebih teliti supaya kita tidak bisa memberikan penilaian langsung tanpa melihat data-data yang kongkrit. Menurut hemat saya, larangan seperti itu tidak pada tempatnya,” ungkap Romo Ruby. 

Sementara anggota DPD RI, GKR Hemas juga menyayangkan kejadian pelarangan perayaan Natal di bagian Sumatera Barat tersebut. Menurut Hemas, DPD sudah melayangkan protes pada Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno terkait insiden di Dharmasraya dan Sijunjung. 

“Kita peringatkan Pak Gubernur, karena di Indonesia itu tak boleh ada pelarangan. Kita sudah protes nggak boleh ada provinsi atau kabupaten yang melarang untuk merayakan Natal,” ungkapnya. 

Sebelumnya, Program Manager Pusaka Foundation Padang menyebutkan terjadi larangan perayaan Natal di Dharmasraya dan di Pesisir Selatan. 22 Kepala Keluarga (KK) umat Kristiani di Dharmasraya dan 15 KK umat Kristiani di Pesisir Selatan tak boleh merayakan Natal bersama. 

Di kedua kabupaten tersebut tak memiliki rumah ibadah untuk umat Kristiani. Umat Kristiani di Dharmasraya harus merayakan Natal ke gereja terdekat di Sawahlunto yang berjarak 135 km. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI