Layanan Tera Kota Yogya Mulai Dikenai Retribusi

YOGYA, KRJOGJA.com – Layanan tera dan tera ulang di wilayah Kota Yogya mulai tahun ini bakal dikenai retribusi. Hal ini berkaitan diterbitkannya Peraturan Walikota (Perwal) Yogya Nomor 108 Tahun 2019 terkait aturan teknis pungutan retribusi tera. 

Kepala UPT Metrologi Legal M Ashari, mengungkapkan sepanjang tahun 2019 lalu layanan tera dan tera ulang belum dikenai retribusi. "Setelah adanya aturan teknis berupa perwal tersebut maka per Januari 2020 sudah bisa kami kenai tarif. Sebelum ada landasan hukum, kami tentu tidak bisa melakukan pungutan," jelasnya, Selasa (21/1/2020).

Jenis tera dan tera ulang meliputi berbagai peralatan mulai alat ukur, timbangan, takar dan lainnya. Aturan teknis berupa Perwal 108/2019 merupakan tindak lanjut dari Perda Retribusi Tera dan Tera Ulang sudah ditetapkan sejak 2018.

Meski sepanjang tahun 2019 lalu tidak ada pungutan retribusi namun layanan tera dan tera ulang tetap rutin dilakukan oleh UPT Metrologi Legal Kota Yogya. Terutama di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) maupun pasar tradisional.

Ashari menambahkan, besaran retribusi tera dan tera ulang sangat terjangkau masyarakat. Seperti untuk tera ulang timbangan meja yang banyak digunakan pedagang di pasar tradisional hanya sekitar Rp 4.000, sudah termasuk tera untuk timbangan dan lima bandul ukur. Sedangkan untuk tera neraca emas atau obat ditetapkan Rp 25.000, tera untuk SPBU Rp 25.000 per nozzle, dan argo untuk taksi Rp 20.000 per armada. "Tera itu berlaku satu tahun dan selanjutnya harus ditera ulang. Yang diukur meliputi ukuran volume, berat, panjang, hingga jarak. Target pendapatan selama satu tahun ini kami targetkan Rp 77 juta," urainya.

Sosialisasi mengenai pemberlakukan tarif retribusi untuk tera dan tera ulang itu sudah digencarkan sejak akhir tahun lalu. Salah satunya ke pedagang pasar tradisional. Pada Januari, pihaknya juga melakukan tera ulang untuk timbangan meja milik pedagang di Pasar Gedongkuning sekaligus untuk sosialisasi. Kemudian akan dilanjutkan pada Februari di Pasar Karangwaru dan Pasar Pingit.

Ashari menjelaskan, meski tarif retribusi sangat terjangkau namun tetap ada pemberian keringanan. Terutama jika terjadi kerusakan alat tera akibat bencana. (Dhi)

BERITA REKOMENDASI