Liburan Aman, Kuncinya Disiplin Prokes

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Tak bisa dipungkiri, sektor pariwisata menjadi tumpuan terbesar perekonomian DIY selain sektor pendidikan. Sehingga libur panjang menjadi momentum yang ditunggu-tunggu masyarakat DIY terutama para pelaku wisata, seiring dengan datangnya para wisatawan dari berbagai daerah berlibur ke DIY. Namun melihat kondisi angka penularan Covid-19 di DIY yang belum menunjukkan tren penurunan, maka untuk menghindari terjadinya ledakan kasus saat libur panjang, mau tidak mau semua pihak harus displin menerapkan protokol kesehatan tanpa toleransi.

Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji mengatakan, saat ini (di tengah pandemi) kesehatan, perekonomian dan refresing menjadi kebutuhan primer masyarakat, sehingga ketiga hal tersebut tidak bisa lagi saling dipertentangkan. Menurut Aji, saat ini orang juga sudah tidak bisa lagi diminta untuk berada di dalam rumah terus menerus. Di era adaptasi kebiasaan baru, mereka diperbolehkan melakukan aktivitas keseharian (termasuk di sektor pariwisata), tapi harus dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 seperti wajib memakai masker, cuci tangan pakai sabun dan jaga jarak.

“Bapak Gubernur DIY memperbolehkan sektor pariwisata beroperasi, tapi harus diimbangi dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat,” terang Baskara Aji secara daring dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema ‘Waspada Ledakan Covid-19 Saat Libur Panjang’ di Meeting Room The 101 Hotel Yogyakarta, Jumat (23/10/2020).

FGD diselenggarakan oleh SKH Kedaulatan Rakyat (KR) bekerja sama dengan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dipandu host Redaktur Pelaksana KR Primaswolo Sudjono diikuti Pemimpin Redaksi KR Octo Lampito dan jajaran. Siaran ulang FGD bisa dilihat di channel Youtube Kedaulatan Rakyat TV.

Sejumlah narasumber menyampaikan permikirannya secara daring seperti Ketua Forkom Desa Wisata DIY Ir Doto Yogantoro dan Trianto Atok Sunarjati dari Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia atau ASITA Yogyakarta. Beberapa narasumber hadir langsung di lokasi FGD yakni Epidemiolog sekaligus Rektor Universitas Alma Ata Yogyakarta, Prof Dr H Hamam Hadi MS ScD SpGK, Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo, Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY Bobby Ardyanto Setyo Ajie, Dr Desta Titiraharja dari Pusat Studi Pariwisata UGM dan Pengamat Pariwisata Tazbir Abdullah.

Prof Hamam Hadi mengatakan, Covid-19 adalah penyakit infeksius yang sebenarnya bisa dicegah pernularannya. Tingginya jumlah kesakitan dan kematian di sebuah daerah, sangat dipengaruhi kualitas upaya pencegahan yang dilakukan.

“Standar pencegahan di seluruh dunia itu sama yaitu ‘3M’, tapi kualitas pencegahannyalah yang berbeda-beda, sehingga angkanya bisa tinggi atau bisa rendah di suatu daerah tertentu,” katanya.

Untuk mencegah terjadinya ledakan kasus Covid-19 saat libur panjang, Prof Hamam membagikan tips-tips aman berlibur atau refresing. Menurutnya, karena penularan Covid-19 lewat droplet maka penerapan protokol kesehatan ‘3M’ harus menjadi budaya.

Saat hendak memilih tempat refresing (objek wisata, restoran) pilihlah yang tidak terlalu padat. Jangan dipaksakan masuk kalau tempatnya terlalu padat. Pakailah masker yang sesuai standar dan sebisa mungkin jangan dilepas.

“Harus diakui tingkat kesadaran dan kedisiplinan masyarakat Indonesia masih rendah, sehingga masih perlu campur tangan aparat pemerintah dan pihak terkait untuk melakukan pendisiplinan,” ujarnya.

Sementara Doto Yogantoro mengatakan, Forkom Desa Wisata DIY terus mengedukasi para pengelola desa wisata, bahwa sebelum desa wisata siap menerima kunjungan wisatawan, harus dipastikan dahulu warga desa wisata telah memiliki budaya Era Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) yang sadar dan disiplin menerapkan protokol kesehatan. Forkom telah melakukan simulasi-simulasi untuk memastikan keamanan dan kenyamanan wisatawan.

“Kami menyadari bahwa budaya era AKB harus dimulai dari diri kita dulu (pengelola desa wisata), baru setelah semua siap bisa menerima kunjungan wisatawan. Kalau belum siap ya ditahan dahulu dan harus sabar, demi kebaikan semuanya. Oleh karena itu kami menunggu arahan dan motivasi dari pihak berwenang, Pemerintah Daerah, Satgas Covid-19 atau Satpol PP untuk memverifikasi dan mersertifikasi desa wisata, sehingga kami menjadi yakin dalam menyambut wisatawan dan menikmati porsi pariwisata DIY,” katanya. (Dev)

BERITA REKOMENDASI