Liburan Nataru, Waspadai Makanan yang Mengandung Zat Berbahaya

YOGYA, KRJOGJA.com – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY beserta TPID Kabupaten/Kota telah melakukan pemantauan harga dan ketersediaan stok bahan pokok (bapok) ke pasar-pasar tradisional dan distributor di Kabupaten/Kota jelang Natal dan Tahun Baru (Nataru). Berdasarkan hasil pemantauan yang dilaksanakan TPID DIY tersebut secara umum kondisi harga beberapa komoditas yang sering menjadi penyumbang inflasi di DIY masih stabil serta terdapat beberapa komoditi yang mengalami kenaikan harga namun masih dalam batas kewajaran. Kondisi stok bapok di DIY dalam menghadapi Nataru dapat dipastikan tercukupi. 

Asekda Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY Tri Saktiyana mengatakan tujuan dari kegiatan tersebut guna melihat kondisi ketersediaan stok dan pergerakan harga kebutuhan bapok di DIY menjelang datangnya Nataru. Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan selama pemantauan antara lain telur ayam broiler, minyak goreng curah, bawang merah besar, bawang merah kecil dan komoditi cabai.

"Harga bapok baik di pasar tradisional maupun supermarket di DIY masih bergerak dalam batas wajar alias tidak terlalu signifikan. Sedikit ada kenaikan harga yang paling tinggi adalah cabai dan bawang merah yang naik lebih dari 10 persen, sedangkan komoditas bapok lain relatif tipis pergerakan harganya," papar Tri Saktiyana di Gedhong Pracimosono Kepatihan, beberapa waktu lalu.

Wakil Ketua TPID DIY Hilman Tisnawan menyampaikan volatile food itu merupakan komponen utama yang mempengaruhi inflasi DIY, disamping administerd prices. Inflasi DIY ditargetkan diangka 3,5 persen plus minus 1 persen hampir sama dengan target inflasi nasional pada 2019 ini. " Komponen volatile food yang berfluktuasi yaitu telur ayam, cabai dan bawang merah saat ini. Sebenarnya kenaikan harga beberapa bapok tersebut masih tidak terlalu tinggi, jadi kami optimis komoditas yang naik masih dalam batas kewajaran bukan karena ada masalah di sisi pasokan atau distribusi," ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY ini. 

Kepala Kanwil Perum BULOG DIY Juaheni mengakui stok bapok yang ada di Bulog sangat mencukupi sekitar 40 ribu ton beras ditambah gula pasir, minyak goreng, tepung terigu dan daging kerbau sekitar 32 ton." Masyarakat tidak perlu khawatir dengan pasokan stok pangan di DIY dan sekitarnya, kami sudah siapkan stoknya cukup untuk kebutuhan Nataru," katanya. 

Kepala Biro Administrasi Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Setda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti menambahkan dalam rangka menjaga stabilitas inflasi daerah, beberapa program kerja TPID DIY menjelang Nataru yaitu menjaga kecukupan stok pangan strategis dengan melakukan pengawasan terhadap potensi gangguan produksi dan distribusi dan pengelolaan ekspektasi melalui berbagai media informasi, baik cetak maupun elektronik. Pelaksanaan Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH) dalam rangka menjaga ketersediaan dan kestabilan harga bahan kebutuhan pokok serta melakukan pemantauan harga dan ketersediaan bahan pangan pokok di kabupaten/kota menjelang Nataru. 

Sementara itu Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) DIY, Rustyawati menyatakan,dari 90 produk pangan yang menjadi sampel,14 diantaranya mengandung bahan pengawet. Sementara 76 produk pangan atau 84 persen memenuhi syarat. Adanya produk pangan yang mengandung zat berbahaya tersebut, perlu diwaspadai masyarakat. Karena produk pangan itu bisa ?menjadi ancaman kesehatan, karena mengandung bahan pengawet dan berbahaya dijual bebas di pasar DIY.

"Kami temukan ikan asin jenis teri medan sebanyak enam sampel, cumi asin sebanyak tiga sampel, krupuk tiga sampel, serta kue mangkok dan ikan balur asin yang mengandung pengawet. Utamanya adalah formalin. Berdasar pengawasan, produk ikan teri nasi dan cumi asin mengandung formalin berasal dari sejumlah daerah di Solo Jawa Tengah, dan Jawa Timur," ungkap Rustyawati.

Menurutnya,pengambilan sampel tersebut dilakukan di enam pasar tradisional yan ada di DIY. Keenam pasar tersebut diantaranya,
Pasar Argosari (Gunungkidul), Pasar Piyungan (Bantul), Pasar Bendungan (Kulonprogo), Pasar Beringharjo (Yogyakarta), Pasar Kranggan (Yogya) dan Pasar Pakem (Sleman). Untuk mengatasi adanya peredaran zat berbahaya dalam makanan. Balai Besar POM Yogyakarta bersama TPID turun langsung untuk mencari info dan mengerucut pada empat penjual atau sales. Menyikapi hal itu pihaknya terus melakukan edukasi pada masyarakat dan pedagang untuk tidak menjual dan mengonsumsi bahan makanan tersebut. 

"Beberapa hal yang bisa diamati antara lain adalah warna mencolok dan bau menyengat. Memang dari pandangan sekilas bahan makanan ini terlihat tidak berbahaya, bahkan efek jarak dekat tidak terasa. Namun, jika dikonsumsi dalam jangka  panjang bisa menyebabkan kanker dan penyakit dalam lainnya,"terangnya. (Ira/Ria)

BERITA REKOMENDASI