Listyani Darma, Dari Busana Perempuan ke Baju Anak

Editor: Ivan Aditya

NEGARAWAN Inggris Winston Churchill (1874-1963) pernah menyarankan agar jagan swekali-kali menyerah dalam hal apapun, besar maupun kecil, penting atau sepele. Di masa pandemi ini tak sedikit yang terdampak dan akhirnya menyerah. Di sisi lain, ada pula yang justru ubet melakukan terobosan baru. Mencari celah di tengah apatisme pandemi.

Listyani Darma misalnya. Aktivis sosial yang juga perancang busana ini melahirkan inovasi baru di masa pandemi. Jika sebelumnya fokus ke busana perempuan, belakangan merancang baju untuk anak-anak. Terobosan tersebut tak sia-sia. Karya-karya Listyani direspons pasar. Mendapat apresiasi.

Jumat (09/10/2020), Listyani mengikuti peragaan busana daring AVMS Fashion Movement. Sembilan baju berbahan dasar lurik dan tenun ditampilkan peragawati cilik Arby Vembria Modeling School. Sebulan sebelumnya, di ajang peluncuran Indonesia Fashion Parade 2020, Listyani juga menampilkan baju anak.

“Melihat peluang. Di samping ingin berkreasi, mengimplementasikan gagasan,” papar Listyani tentang pembuatan busana anak.

Seperti masyarakat lain, Listyani ikut merasakan dampak. Beberapa program yang telah disusun, berantakan. Pameran ke Belanda dibatalkan. Padahal karya-karyanya sudah dikemas dan siap kirim.

Realitas tersebut tak membuatnya terpuruk. Justru tertantang sikon. “Kalau menuruti keadaan, bisa nglokro. Kesulitan harus memacu otak, jeli mencari celah,” ungkap warga Jombor Sleman itu.

Sebagai sosialita yang pergaulannya luas, Listyani tak kesulitan menerjemahkan imajinasinya. Tanpa banyak cakap, hasil kreasinya langsung tergelar. Dan ketika terpublikasikan, banyak yang kaget. Tak sedikit yang memuji inovasinya.

Bagi ibu dua anak ini, apresiasi manis bukan tujuan utama. Ia lebih senang ketika gagasan yang ditindaklanjuti nyata, akhirnya memunculkan hasil.

“Bisa membuktikan tidak hanya berwacana. Ide digarap, jadilah karya. Respons indah makin menyemangati. Garapan bisa diterima orang lain,” paparnya.

Mengamati kehidupan masyarakat, terutama para ibu rumah tangga, Listyani melihat banyak yang bersemangat berkarya. Listyani dengan teman-teman komunitas sempat memberi bantuan sosial ke masyarakat.

“Selain membutuhkan barang-barang tersebut, masyarakat juga butuh dukungan moril dan arahan logis. Buktinya, mereka bisa bangkit setelah tersemangati. Intinya, menularkan semangat itu perlu dan bermanfaat. (Latief ENR)

BERITA REKOMENDASI