Loro Blonyo Dulu Hanya Boleh Dimiliki Bangsawan , Ini Sebabnya

Editor: KRjogja/Gus

TIDAK diketahui dengan pasti sejak kapan perwujudan patung Loro Blonyo ini mulai ada. Akan tetapi yang menduga bahwa patung Loro Blonyo ini mulai ada sejak zaman Mataram pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1645). Sekalipun demikian, kemungkinan besar jauh sebelum Mataram berdiri hal itu mungkin memang telah ada sekalipun dalam tingkat yang sederhana. Bagaimanapun harmonisasi antara unsur kelelakian dan keperempuanan yang diwakili oleh lingga yoni telah ada sejak pengaruh Hindu-Budha masuk di Nusantara.

seperti dikutip dari Harianmerapi.com, istilah Loro Blonyo ditengarai berasal dari kata loro (dua) dan blonyo (dibalur). Hal ini diduga berkaitan dengan proses rias atau tata dandan yang dilalui dengan tahapan pembaluran sesuatu (minyak wangi, air bunga, rempah wangi, dan sebagainya). Namun ada pula yang mengartikannya sebagai lara (sakit) dan blonyoh (sakit pada kulit yang mengakibatkan kulit mengeluarkan cairan, semacam kudis ganas). Namun versi kedua ini sangat sulit dilacak runutan dan pertautannya dengan sepasang patung pengantin yang ditempatkan di depan senthong tengah ini.

Umumnya patung Loro Blonyo divisualisasikan dengan wujud sepasang pengantin berpakaian basahan. Pakaian basahan adalah pakaian atau busana pengantin keraton di Jawa, dimana pengantin laki-laki mengenakan kain panjang yang disebut dodot, celana panjang cindai, mengenakan kuluk, bersumping, berkelat bahu, dengan rambut bagian belakang digelung kecil dan ujungnya sering sedikit diurai. Pengantin laki-laki tidak mengenakan baju (telanjang dada) serta berkalung ulur.

Sementara pengantin wanita juga tidak mengenakan baju namun berkemben dan juga berdodot, berkelat bahu, bergelang, Rambut digelung dan diberi hiasan untaian bunga melati yang hanmpir memenuhi semua rambutnya. Bercunduk mentul.Sepasang patung Loro Blonyo ini umumnya dibuat dalam posisi atau formasi duduk bersimpuh dan keletakannya mengapit pintu senthong tengah.

Diduga bahwa patung Loro Blonyo dulunya hanya dimiliki atau hanya boleh dimiliki oleh kaum bangsawan. Ujud visulalisasinya yang berbusana basahan mungkin menegaskan akan alasan itu. Selain itu senthong tengah yang berhias cukup mewah umumnya juga hanya terdapat pada rumah-rumah besar seperti joglo yang juga dilengkapi dengan senthong kiwa dan senthong tengen, gandok kira, dan gandok tengen, pringgotan, pendapa, gadri, sumur depan, sumur belakang, mushala, pawon, gedhogan, dan sebagainya. (Albes Sartono)

 

 

BERITA REKOMENDASI