Macet di Yogya, Peningkatan Kapasitas Jalan bisa Jadi Solusi

YOGYA, KRJOGJA.com – Kemacetan yang terjadi disejumlah ruang jalan di Yogya pada saat-saat tertentu, seperti saat libur panjang Natal dan Tahun Baru, masih menjadi persoalan serius. Berbagai upaya terus dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi persoalan tersebut, salah satunya dengan meningkatkan kapasitas jalan, seperti di jalan Gito Gati dan simpang Kentungan. 

"Dalam kapasitas saat ini dengan volume kendaraan yang melonjak, maka ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Pertama adalah membuka akses dan rute alternatif. Rute kemacetan umumnya di jalur utama, sementara jalan-jalan paralel masih bisa digunakan untuk meningkatkan kapasitas arus lalin," kata peneliti di Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM, Dr Arif Wismadi di Yogyakarta, baru – baru ini.

Arif mengungkapkan, saat puncak musim liburan, ada kesempatan bagi warga yang terlewati jalan alternatif untuk memberi keleluasaan kendaraan tamu melintas di lingkungannya. Contohnya, saat ini ini warga di sekitar Klaten membuka portal dan memberi petunjuk pada pengendara yang melintas desa mencari jalan alternatif. Mereka melayani tamu yang melintas dengan ramah disertai senyum. Pada hari-hari puncak itu, kesempatan yang sama terbuka untuk warga di sekitar jalan utama untuk memberi lebih banyak dibanding hari biasanya.

"Yogya merupakan tujuan wisata paling populer karena posisinya di tengah. Adanya layanan tersedia dengan harga paling terjangkau dibandingkan dengan kota besar dan tujuan wisata lain. Adanya ketersediaan akomodasi dengan range yang luas, dari homestay yang bisa dipakai rombongan secara tidak langsung menjadi daya tarik tersendiri," paparnya.

Lebih lanjut Arif menambahkan, selain beberapa hal di atas, upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi kemacetan, saat di jalur utama, masyarakat bisa saling mengingatkan agar tidak menimbulkan hambatan samping sepanjang jalan. Hal ini penting karena hambatan samping yang ada disepanjang jalan utama telah menurunkan kapasitas pada kisaran 20 persen sampai 40 persen. 

Lebih lanjut peneliti di Pustral UGM tersebut menambahkan, pengendalian fungsi dan kapasitas simpang juga perlu diperhatikan untuk mengurangi kemacetan. Karena banyak simpang-simpang antara ruas utama dan ruas yang lebih kecil yang kadang membuat macet. Hal itu terjadi karena kurangnya kebiasaan memberi jalan. Untuk itu saat puncak musim liburan, saatnya warga Yogya memberi contoh tindakan 'give way'. Yaitu berjalan pelan, atau berhenti sejenak dan memberi kesempatan pengunjung atau menyeberang simpang. Selain itu juga menghindari untuk mengambil ruang di simpang saat di depan ada kendaraan yang berhenti agar tidak menutup simpang.

"Jika kota lain lebih banyak menerapkan 'yellow box' dan menindak langsung pengemudi yang terjebak dalam kotak kuning. Karena hal itu menandakan bahwa mereka menerobos waktu kritis di simpang. Sayangnya di Kota Yogya termasuk kota yang tidak banyak marka 'yellow box' yang menunjukkan bahwa masyarakat dianggap cukup terdidik untuk tidak menerobos simpang atau menutup kesempatan kendaraan menyeberang. Edukasi untuk pengunjung atau tamu luar kota bisa dilakukan oleh petugas pengatur simpang atau juga masyarakat dengan memberi contoh tindakan 'give way'pada orang lain," paparnya. (Ria)

BERITA REKOMENDASI