Mahasiswa FKIP UST Gelar Pameran di Sangkring Art Space

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJOGJA.com – Program Studi (Prodi) Pendidikan Seni Rupa (PSR), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (FKIP UST) Yogyakarta mengadakan pameran bertajuk 'International Exhibition Dewantara Triennale 2019' di Bale Banjar, Sangkring Art Space Yogyakarta. Pameran yang berlangsung  11-30 Maret 2019 menampilkan karya lukisan, patung, grafis, fotografi, batik, kriya kayu, kriya logam, videografi dan instalasi.

Ketua pameran, Dio Pamula mengatakan, Dewantara Triennale merupakan program rutin pameran seni rupa tiga tahunan yang pertama kali diselenggarakan oleh Prodi PSR FKIP UST. "Pameran ini diikuti para seniman dari tujuh negara yaitu Indonesia, Malaysia, Madagaskar, Amerika Serikat, Jerman, Inggris dan Korea Selatan," terang Dio saat pembukaan pameran, Senin (11/3/2019) malam.

Selaku kurator Dr Moh Rusnoto Susanto SPd MSn sekaligus Kaprodi PSR FKIP UST dan Mr Anton Lorenz. Hadir dalam acara pembukaan, seniman sekaligus pemilik Sangkring Art Space Putu Sutawijaya, Dekan FKIP UST Ki Nanang Bagus Subekti yang membuka pameran serta segenap sivitas akademika UST.

Ki Nanang Bagus Subekti mengapresiasi Prodi PSR yang berhasil menyelenggarakan pameran seni rupa bertaraf internasional. Sesuai dengan nama 'Dewantara Triennale', pameran ini diharapkan semakin meneguhkan visi Ki Hadjar Dewantara yaitu pendidikan dan kebudayaan. Selain itu mampu merangsang kreativitas mahasiswa PSR sebagai calon tenaga pendidik seni rupa berkualitas serta bekal menjadi seniman handal. "Pameran ini diharapakan memperkaya khasanah seni rupa di Yogyakarta," ujarnya.

Moh Rusnoto Susanto mengatakan, tema yang diangkat dalam pameran ini adalah 'Local Wisdom of Universality Exploration'. Menurutnya, pameran ini tidak sedang mempertentangkan perihal lokalitas, universalitas, organisme dan hibrid. Namun sesungguhnya tengah membentangkan khasanah perayaan visual dengan merelasikan nilai-nilai yang sesungguhnya, sebagai upaya penggalian kesadaran nilai-nilai lokal yang saling terkait. "Melalui paradigma lokalitas dan universalitas yang cair, pameran ini menghadirkan sebuah petualangan praktik seni yang organis dan hibrid," ujarnya.

Sedangkan Anton Lorenz mengatakan, masing-masing seniman punya lokalitas sendiri-sendiri yang bisa ditambah dan dimodifikasi sehingga tidak stagnan. Mengingat nilai-nilai kearifan lokal sangat penting bagi seni kontemporer, maka elemen histori dari budaya daerah jangan dibuang begitu saja. "Pameran triennale ini memberikan kesempatan ruang seni yang lebih eksperimental, jarang dilihat, belum menonjol namun berkualitas," tuturnya. (Dev)

 

UST

BERITA REKOMENDASI