Mahasiswa Seni Rupa ISI Kerjakan Ujian di GL Zoo

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Ada yang tidak biasa di Ujian Akhir Semester (UAS) genap 2021/2022 yang dilakukan Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Tidak di kelas, para mahasiswa harus menyelesaikan ujian akhirnya di GL Zoo, Kamis (19/05/2022).

Pada mata kuliah Gambar Ekspresi itu, mahasiswa harus menyelesaikan ujian di luar ruang didampingi oleh tim dosen pengampu yakni, Drs Asnar Zacky, M.Sn, Indiria Maharsi, S.Sn M.Sn dan Alit Ayu Dewantari, S.Sn., M.Sn. Ujian berkonsep luar ruangan sebenarnya bukan kali pertama dilakukan, namun sudah ada sejak tahun 70-an.

Asnar Zacky, salah satu tim pengampu mata kuliah Gambar Ekspresi mengatakan konsep ujian saat ini lebih sulit dan menantang bagi mahasiswa karena ukuran kertas untuk menggambar adalah A1. Dari dua kelas, terdapat 97 mahasiswa, 24 orang secara luring, selebihnya mengikuti secara daring.

“Sebagian mahasiswa masih belum kembali ke Jogja, ini masih masa transisi jadi kami gelar dengan mode daring-luring, yang sudah di Jogja mengikuti UAS di Gembira Loka, sedang yang masih di tempat asal mengikuti secara online. Mereka menggambar binatang yg ada di lingkungan sekitar rumah. Binatang peliharaan baik di rumah, tetangga, bahkan ada juga yg mereka secara mandiri pergi ke kebun binatang di daerah tempat tinggalnya,” ungkapnya pada wartawan.

Terkait tugas ujian menggambar binatang, Alit Ayu Dewantari menambahkan di mata kuliah Gambar Ekspresi, fokus utama ada pada gerak gestur ekspresi sehingga kepekaan mahasiswa dalam memahami sebuah logika konstruksi/anatomi menjadi sangat penting. Gerak, gestur, ekspresi binatang terbangun secara naluriah, sehingga ini yang harus diketahui mahasiswa.

“Kami ingin melatih kepekaan mahasiswa dalam mencermati dan menangkap gerak gestur ekspresi, mengingat binatang bergerak secara naluriah, tidak dapat diatur sehingga kecermatan mahasiswa dalam menangkap dengan cepat gerak gestur menjadi salah satu poin dari ujian ini,” terangnya.

Dalam jangka waktu 5 jam, mahasiswa mendapat tugas menggambar 3 jenis binatang dengan goresan cepat. Tentu saja ini menantang sekaligus berkesan bagi mereka, terutama selama pandemi ini mereka terbiasa mengerjakan 1 obyek tugas dalam waktu 1 pekan.

“Kali ini 5 jam 3 obyek cukup menantang dan berkesan untuk mereka. Ini menjadi penting mengingat kecenderungan saat ini ketika menggambar bentuk acuannya hanya sebatas gambar mati di hp atau laptop saja sehingga mahasiswa tidak menangkap ekspresi ‘hidup’ dari objek tersebut,” ungkapnya lagi.

Sementara, Kaprodi DKV FSR ISI Yogyakarta, Daru Tunggul Aji mengungkap konsep ujian-ujian di prodi DKV, memiliki skema yang menantang dan berbeda dari prodi-prodi yang lain. Misalnya di mata kuliah Visual Branding, Project Desain, Komik, Sinematografi, tipografi, dan beberapa mata kuliah yang lain, dosen pengampu memberi tantangan ke mahasiswa untuk merespon fenomena yang ada dalam bentuk karya desain dan mengharuskan melahirkan luaran berupa pameran di luar kampus dan bermitra dengan lembaga di luar kampus maupun dengan dunia industri.

“Selain itu juga terdapat luaran perkuliahan berupa buku rancangan mahasiswa, seperti di mata kuliah kajian media dan budaya, jadi satu kelas akan membentuk tim produksi penerbitan buku, ada penulis, lay outer, ilustrator, desain sampul, editor, jadi mahasiswa akan saling mengisi satu sama lain untuk menghasilkan buku, hal ini menjadi pembeda dengan DKV yang lain, kami berusaha menyeimbangkan antara kemampuan merancang karya desain, juga kemampuan dalam hal riset dan kepenulisan,” pungkas Daru. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI