Mahasiswa UGM Kaji Penanganan ‘Pageblug’ Berbasis Budaya

Editor: Agus Sigit

YOGYA, KRJOGJA.com – Mahasiswa Univeristas Gadjah Mada (UGM) melakukan kajian mengenai penaganan pageblug atau bencana berupa wabah berbasis budaya. Mereka adalah Taruna Dharma Jati (mahasiswa Departemen Bahasa dan Sastra, Fakultas Ilmu Budaya), Zalsabila Purnama (Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik, Fakultas Ilmu Sosial Politik) dan Muhammad Ibnu Prarista (Fakultas Hukum) ketiga mahasiswa tersebut tergabung dalam tim PKM-RSH yang dibimbing oleh Zakariya Pamuji Aminullah, S.S. M.A.

Kajian berjudul ‘Lawe Wênang Singid: Benang Merah Kontinuitas Penanganan Pageblug berbasis Budaya dalam Perspektif Kesusastraan Jawa Sebagai Strategi Menghadapi Wabah’. Lawe Wĕnang Singid dapat diartikan sebagai suatu simbol kontinuitas penanganan pageblug yang tersembunyi.

Muhammad Ibnu Prarista mengatakan, memori kolektif yang tersimpan dalam kesusastraan Jawa menyebutkan bahwa pageblug sesungguhnya sudah pernah terjadi pada masa lalu, namun mulai ditinggalkan masyarakat sebagai akibat dari pesatnya perkembangan IPTEK. Padahal dalam kesusastraan Jawa terdapat pengetahuan mengenai jejak dan upaya penanganan suatu pageblug.

“Masyarakat Indonesia seakan-akan melupakan memori kolektif bahwa pageblug sesungguhnya sudah pernah terjadi pada masa lalu. Di Jawa misalnya, pageblug jrong (wabah pes) tahun 1920-an berjangkit di Solo dan sekitarnya hingga menewaskan ribuan orang,” kata Ibnu kepada KRJOGJA.com, Kamis (2/9/2021).

Penulisan artikel penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data dengan melakukan observassi, wawancara mendalam (indepth interview), studi pustaka, dan studi filologi. Terdapat tujuh subjek yang diteliti pada penelitian ini antara lain subjek dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Kadipaten Pakualaman dan Kasunanan Surakarta, akademisi dan saksi hidup yang pernah mengalami pageblug Pes.

Taruna Dharma Jati menambahkan, Konsep tentang pageblug sudah dapat ditemukan dalam Tataran Konseptual yang tersirat dalam naskah Calon Arang dan Kidung Sudamala. Dalam naskah tersebut dapat dimaknai bahwa terjadinya pageblug sebagai suatu fenomena kosmologi terkait ketidakselarasan hubungan manusia dan alam. Hal ini mendasari bahwa pageblug dapat diredakan dengan mengembalikan keselarasan antara hubungan manusia dan alam.

Selanjutnya, dalam sastra lisan terdapat ajaran yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat Jawa yakni Mangasah mingsing budi, memasuh malaning bumi, memayu hayuning bawana, Pageblug terjadi karena hukuman dari Bathara Kala, Konsep 10 unsur alam (eka bumi, dwi sawah, tri gunung, catur sagara, panca taru, sad panggonan, sapta pandhita, hasta tawang, nawa dewa, dasa ratu), dan Tri Hita Karana. Keempat ajaran tersebut melandaskan aspek kosmologi yang berkaitan latar belakang terjadinya suatu pageblug.

Penanganan pageblug secara histroris dapat ditemui dalam sastra tulis berupa naskah Jawa yakni Ngelmu Kawarasan, Lalara Gudhig, Lelara Kolerah, Bab Lelara: Pes lan pratikel minangka panyegahe, dan Influenza yang memuat jejak dan upaya penanganan pageblug secara fisik.

UGM

BERITA REKOMENDASI