Maklumat Sultan Menuai Kritikan, Mulai dari Kutipan Cicero hingga Arnold Toynbee

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Gubernur DIY yang juga Raja Kraton Yogyakarta, Sri Sultan HB X menyampaikan sapa aruh dan maklumat rakyat Jogja bangkit bersama, Rabu (21/07/2021) mendapat kritikan dari aktivis sosial, Baharuddin Kamba. Pidato Sultan yang dibacakan di Bangsal Kepatihan itu dinilai terlalu teoritis dan sulit di cerna rakyat Yogyakarta.

Sultan menyampaikan pidato dengan teks sepanjang 16 alinea sore tadi. Pidato tersebut berjudul ‘Yogya Satu, Bangkit Bersama’ yang berisi sapa aruh juga maklumat dari Sultan.

Baharuddin Kamba menilai pidato Gubernur DIY itu sulit dipahami masyarakat yang kini tengah berjuang di tengah kesulitan hidup. Teori-teori yang diambil dari filsuf Romawi Kuno, Cicero, lebih dari 20 abad yang lalu. Kedua, guru besar dari Harvard, Michael Porter, dan Sejarawan Inggris, Arnold Toynbee dinilai terlalu sulit dipahami rakyat.

“Dalam catatan kami, pidato Gubernur DIY Sri Sultan HB X ada tiga kutipan. Pertama, yang diucapkan oleh filsuf Romawi Kuno, Cicero, lebih dari 20 abad yang lalu. Kedua, guru besar dari Harvard, Michael Porter, dan Sejarawan Inggris, Arnold Toynbee. Mohon maaf dengan tidak mengurangi rasa hormat dan terima kasih kepada rakyat Jogja yang saat ini sedang berjuang menyambung hidupnya, apakah paham disuguhi dengan teori-teori seperti itu? Rakyat Jogja itu kan perlu bagaimana segera mendapatkan bantuan agar dapat menyambung hidup ditengah kesulitan yang semakin sulit,” ungkap Kamba melalui pernyataan tertulis.

Kamba yang juga aktivis Jogja Corruption Watch juga menilai, kutipan dari teori filsuf Romawi Kuno, Cicero juga belum dilaksanakan pemda DIY dalam penanganan pandemi ini. Kamba menyoroti rendahnya serapan APBD DIU untuk Covid yang sempat ditegur Mendagri, Tito Karnavian.

“Apakah sudah menerapkan secara maksimal dan optimal teori dari filsuf Romawi Kuno, Cicero tentang ‘Keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi’? Jika memang sudah dilakukan kenapa serapan dari APBD DIY masih terbilang masih rendah, padahal anggarannya ada dan tercukupi. Kenapa justru membangun pagar di alun – alun utara Yogyakarta dengan anggaran Rp. 2,3 miliar yang bersumber dari Dana Keistimewaan atau Danais? Sementara ada masyarakat sulit mendapatkan layanan kesehatan hingga ada yang meninggal dunia diparkiran dan ada pula yang meninggal dunia di kursi tunggu antrean layanan pada salah satu Rumah Sakit di Yogyakarta. Belum lagi masyarakat DIY yang terdampak ekonomi dari pandemi Covid -19 ini,” sambung Kamba.

Saat ini, warga DIY tengah menanti realisasi dari Sapa Aruh dan Maklumat yang disampaikan Sultan sore hari tadi. Harapan agar tak semakin banyak warga meninggal saat terpapar penyakit akibat virus Corona pun kini mencuat, yang berarti pemda bersama masyarakat harus bergotong-royong. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI