Makna Endog Abang di Perayaan Grebeg Kraton

YOGYA (KRjogja.com) – Tak banyak penjual endog abang yang berjualan di sekitaran pelataran Kraton Yogyakarta pada Grebeg Syawal, Kamis (7/7/2016) kali ini. Hanya beberapa saja yang masih tetap menjual Endog Abang dan hampir semuanya didominasi perempuan usia lanjut.

Salah satu penjual, Mangkusutrisno (80) yang ditemui KRjogja.com di Keben Kraton sesaat sebelum prosesi Grebeg Syawal dimulai mengisahkan bahwa tradisi membuat endog abang sudah dimulai sejak puluhan tahun lalu. Endog abang yang dibuat dari telur ayam yang direbus kemudian kulitnya dicat (teres) warna merah ini memiliki makna tersendiri yakni keberkahan dalam kehidupan baru.

"Endog abang ini telur yang membawa berkah, dulu Kraton yang membawa filosofi ini kemudian disebarkan pada masyarakat. Saya sendiri sudah lebih dari 20 tahun membuat endog abang dan dijual di wilayah Kraton," ungkap penjual asli Jalan Parangtritis ini.

Endog abang ini dijual dengan cara ditusuk dengan sebuah bambu yang terlebih dahulu dihias dengan kertas putih dan direkatkan menggunakan lem. Ternyata hal tersebut memiliki arti tersendiri yakni menggambarkan hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan.

Telur sendiri memiliki makna kelahiran baru sementara warna merah membawa simbol kesejahteraan. "Endoge disunduk nganggo empring (telurnya ditusuk dengan bambu) untuk menunjukkan hubungan kita dengan Gusti Allah. Kira-kira itu simbolnya," lanjut Mbah Mangku.

Saat ini Mbah Mangku menjual endog abang dengan harga Rp 3 ribu per buah. Nenek satu ini hanya akan berjualan pada saat hari-hari besar Kraton seperti Sekaten dan Grebeg seperti yang dilaksanakan hari ini. (Fxh)

 

BERITA REKOMENDASI