Malioboro Fashion 1000 Sarong, Angkat Etnik Lokal ke Internasional

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJOGJA.com – Sarung ternyata bisa menjadi salah satu busana etnik lokal yang 'fashionable' dan layak dikenakan untuk kegiatan sehari-hari. Tak jarang, sarung bisa menjadi pilihan masyarakat sebagai bawahan pada suatu acara penting.

Melihat keunggulan sarung tersebut, Jogja Heboh turut menawarkan satu agenda yang mengajak masyarakat melihat keunikan penggunaan sarung dalam agenda Malioboro Fashion 1000 Sarong, Minggu (10/2) mendatang. "Pada dasarnya yang ingin kita capai saat orang ke Yogyakarta bisa dapat alternatif oleh-oleh baru, yakni sarung yang murah tapi tetap kekinian. 
Malioboro nantinya bukan hanya terkait batik atau batik tiruan, tapi juga sarung. Ini bukan perkara memindahkan pondok pesantren menjadi sebuah fesyen, tapi sarung sendiri sudah menjadi bagian Indonesia dari dulu," ujar 'person in charge' Malioboro Fashion 1000 Sarong, Afif Syakur saat dihubungi KR, Selasa (5/2). 

Afif menilai Yogyakarta adalah pintu gerbang etnik Indonesia, sehingga penggunaan sarung di masyarakat bisa diupayakan. Disinggung mengenai konsep acara, Afif sendiri mengungkapkan sarung yang digunakan tidak hanya lurik ataupun batik. Asal setiap pengguna memahami cara menggunakan sarung yang kreatif, maka itu bisa terlihat 'fashionable'.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, bagi masyarakat yang ingin menonton pagelaran busana unik tersebut, bisa hadir di Titik Nol, Minggu (10/2) mulai pukul 14.00-17.00. "Dari Titik Nol Km itu nanti akan ada karpet memanjang ke arah Pasar Beringharjo. Pagelaran ini gratis, siapa saja bisa melihatnya," ungkap Afif. Tidak hanya itu, desainer asal Yogyakarta tersebut mengungkapkan gelaran Malioboro Fashion 1000 Sarong itu bisa memecahkan rekor MURI.

"Kami mengupayakan agar agenda ini bisa memecahkan rekor MURI karena sarung sendiri bisa go international, sehingga kami memilih kata sarung dengan 'o' yang menjadi sarong agar lebih terkenal di mata dunia," tandasnya. (M-1)

BERITA REKOMENDASI