Manfaatkan Biogas Limbah Tahu, Warga Seyegan Hemat Penggunaan Elpiji dengan Difasilitasi IST AKPRIND

YOGYA, KRJOGJA.com – Energi terbarukan, ekonomi dan industri hijau menjadi salah satu fokus perhatian IST AKPRIND Yogyakarta dalam berbagai kegiatan baik pengabdian masyarakat, riset/penelitian, dan lain-lain.

Seperti yang dilaksanakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) IST AKPRIND, Selasa (5/7/2022), melalui penyerahan alat digester untuk masyarakat Kalurahan Margoagung, Seyegan, Sleman.

Peralatan digester diserahkan Kepala LPPM IST AKPRIND Prof Dr Ir Sudarsono MT kepada Lurah Margoagung Jarwo Suharto mewakili penerima manfaat, di Pedukuhan Krapyak Barepan, Margoagung.

Digester yang diserahkan jenis fixed dome dengan kapasitas 9.000 liter. Digester ini merupakan hasil dari Hibah Penelitian Skema Riset Keilmuan Dikti dengan judul Integrasi Produksi Bersih Industri Kecil Tahu dalam Pengembangan Energi Terbarukan Rendah Karbon di Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan, Sebagai Model Pembelajaran MBKM Pembangunan Desa dalam Upaya Mencapai Ekonomi Hijau.

Penelitian diketuai Dr Muchlis dengan Ellyawan Setyo Arbintarso PhD dan Sri Rahayu Gusmarwani ST MT sebagai anggota serta dibantu Dr Dra Suparni Setyowati Rahayu MSi dan Ani Purwanti ST MEng.

Prof Sudarsono berharap dengan adanya digester ini maka limbah dari pembuatan tahu akan termanfaatkan menjadi biogas yang merupakan energi terbarukan yang ramah lingkungan untuk memasak.

“Dengan adanya konversi limbah tahu sebagai biogas, maka dapat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan energinya,” ujar Sudarsono.

Lurah Margoagung berpesan kepada penerima manfaat untuk menjaga dan merawat digester yang sudah diberikan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka waktu lama.

Menurut Muchlis, untuk sementara digester ini digunakan oleh empat rumah penerima manfaat untuk memasak, menggantikan bahan bakar gas/elpiji yang selama ini dipakai. Seandainya biogas yang dihasilkan banyak, maka dimungkinkan juga digunakan untuk penerangan.

“Penerima manfaat yang biasanya tiap tiga hari sekali membeli gas/elpiji tabung melon, dengan adanya biogas ini menjadi tiap dua minggu sekali,” kata Muchlis.

Ellyawan mengatakan, prosedur kerja, cara penyimpanan dan cara pemanfaatan biogas kurang lebih 86 liter (setelah tiga minggu proses) dari limbah tahu ini mudah dipelajari oleh masyarakat sebagai sumber energi alternatif. ” Di samping itu dapat meningkatkan taraf ekonomi dan kesehatan lingkungan masyarakat,” jelasnya.

Ani Purwanti menambahkan, biogas yang dihasilkan digester ini merupakan salah satu energi alternatif yang sekarang banyak dikembangkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Selain murah, biogas juga ramah lingkungan. Metana (CH4) merupakan unsur gas yang menentukan kualitas biogas.

“Program ini melibatkan Program Studi Teknik Lingkungan, Teknik Mesin dan Teknik Kimia dengan 10 orang mahasiswa Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM),” tambah Muchlis.

Wardhani, salah seorang penerima manfaat merasa senang dan berterima kasih kepada IST AKPRIND, dan berharap setiap penerima manfaat dapat berkontribusi dalam memasok limbah industri tahunya ke digester tersebut. (San)

Foto: Dokumen IST AKPRIND

BERITA REKOMENDASI