Mas Riya Cerma Kandhawijaya Jelaskan Filosofi Menonton Wayang dari Dua Sisi

Editor: KRjogja/Gus

DULU setiap pergelaran wayang kulit, tamu kehormatan ditempatkan di balik layar atau kelir. Penonton yang bukan undangan menonton dari depan layar atau di belakangnya dalang. Kalau sekarang semua penonton wayang baik undangan maupun bukan, semua berada di depan layar.

“Dua-duanya tidak salah, karena dalam memahami cerita dan pertunjukan wayang itu sebaiknya dari dua sisi, ” kata dalang Ki Parjaya SSn (64) atau Mas Riya Cerma Kandhawijaya kepada KR

di Pendapa Tamansiswa Yogyakarta, Selasa (25/8). Ki Parjaya pernah mendalang dan melatih para dalang di Suriname.

Dalam pergelaran wayang, tokoh yang benar atau baik berada di sebelah kanan. Tokoh yang salah atau jelek di sebelah kiri. Itu kalau menonton di depan layar. Kalau menontonnya dari balik layar, tokoh yang benar di sebelah kiri sedang tokoh yang salah atau jelek di sebelah kanan.

Menurut Ki Parjaya itu artinya dalam memahami cerita wayang dan juga kehidupan ini sebaiknya dari dua sisi. Tidak boleh mengklaim hanya dirinya yang betul. Harus dilihat, betul bagi si A belum tentu betul bagi si B. Itu ditunjukkan dari pergelaran wayang kulit yang bisa ditonton dari dua sisi, di mana posisi wayang berkebalikan.

Menonton dari balik layar, itu menggambarkan hubungan mahluk dengan Sang Pencipta. Jadi adanya hitam dan putih. Sedang dari sisi tontonan dari balik layar wayang seperti hidup bergerak sendiri. Dulu lampu pergelaran wayang kulit menggunakan blencong, lampu minyak. Apinya bergerak-gerak tertiup angin. Memberi efek bayangan wayang seperti bernafas. Pertunjukan wayang memang mempertunjukan bayangan.
Perkembangan zaman pertunjukan wayang kulit sekarang menggunakan lampu listrik. Bahkan juga menggunakan lampu-lampu pertunjukan.

BERITA REKOMENDASI