Masih Perlu Waktu dan Usaha, Biogas Bisa Digunakan untuk Bahan Bakar Mobil

YOGYA, KRJOGJA.com – Biogas sebagai sebuah teknologi bisa untuk diaplikasikan sampai skala industri. Swedia adalah salah satu contoh sukses di mana biogas dari limbah organik dimanfaatkan untuk bahan bakar mobil.

Di Indonesia, aplikasi biogas untuk skala industri atau bahkan untuk bakan bakar kendaraan bermotor masih memerlukan waktu dan usaha. Dibutuhkan metode untuk purifikasi dengan harga yang terjangkau, investasi, dan dukungan yang terus-menerus dari pemerintah.

Hal tersebut mengemuka dalam workshop dan eksibisi tentang biogas yang merupakan kolaborasi antara IndoSwed Project Fakultas Teknologi Pertanian yang diketuai oleh Dr Ria Millati dan Waste Refinery Center Fakultas Teknik yang diketuai oleh Dr Rochim Bakti Cahyono dari UGM. Workshop dan eksibisi berlangsung 7-8 Februari 2018 di Hotel Alana serta kunjungan ke biogas plant di Pasar Buah Gamping.  

Menurut Ir Edi Indrajaya MSi dari Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral, Propinsi DI Yogyakarta, biogas ini merupakan bagian dari kebijakan energi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan semakin dibutuhkannya sumber energi terbarukan, biogas masih sangat potensial untuk berkontribusi dalam penyelesaian permasalahan energi di Indonesia khususnya untuk komunitas kecil dan menengah di masyarakat.

Di Indonesia penerapan biogas untuk skala kecil (dan menengah) dapat dikatakan cukup berhasil.  Kebanyakan biogas untuk skala ini dihasilkan dari kotoran ternak atau limbah cair industri kecil dan menengah seperti industri tahu.

Hasil biogasnya dimanfaatkan untuk memasak, penerangan, atau bahkan untuk bahan bakar misalnya mesin pemotong rumput. Dari unit biogas juga dapat dihasilkan bioslurry yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair dan biopestisida.

Unit biogas sebaiknya dilihat sebagai bagian dari sistem pengelolaan limbah. Keadaan lingkungan  yang lebih bersih dengan adanya unit biogas ini mempunyai nilai ekonomi tersendiri. Dukungan pemerintah (daerah) dalam bentuk kebijakan dan regulasi sangat dibutuhkan dalam hal ini.

Kegiatan workshop dan eksibisi biogas ini disponsori oleh The Swedish Research Council dari Swedia. Workshop dihadiri sebanyak 70 peserta dari berbagai instansi pemerintah, akademisi dan praktisi biogas.

Latar belakang diselenggarakan workshop ini adalah untuk menemukan strategi aplikasi biogas di masyarkat sebagai bagian dari pengembangan teknologi tepat guna energi terbarukan.

Hadir sebagai pembicara utama Prof Mohammad Taherzadeh dari University of Borås, Swedia, Prof Udin Hasanudin dari Universitas Lampung yang merupakan Ketua Asosiasi Biogas Indonesia. Juga praktisi dari Yayasan Rumah Energi Wilhemus Leang, Febryana Nugrahany dari PT Cipta Tani Lestari, dan Ir Dian Pribadi dari Hammer Farm, Yogyakarta.

Sedang akademisi yang hadir Ir Edi Indrajaya MSi (Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral, Propinsi DI Yogyakarta) dan Muhammad Sigit Cahyono ST MEng dari Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta. (*)

 

BERITA REKOMENDASI