Masuk Fase VII Intrusi Magma, Aktivitas Vulkanik Merapi Meningkat

Lebih lanjut dijelaskan Budi, ada kemiripan antara aktivitas Merapi pascaletusan tahun 2010 dengan pascaletusan 1872 ditandai dengan muncul kubah lava baru disusul letusan-letusan eksplosif. Setelah data-data 2010 vs 1872 disandingkan ternyata konsisten, sehingga oleh BPPTKG dijadikan referensi. “Kalau membandingkan pola aktivitas dengan pasca letusan 1872, maka bisa diprediksi bahwa setelah terjadinya ekstrusi magma tahun 2018 kemarin, kemungkinan besar akan terjadi lagi ekstrusi magma yang lebih besar, tapi tidak tahu kapan itu terjadi. Semoga memunculkan gejala sebelum ekstrusi magma tersebut terjadi, sehingga bisa diantisipasi,” katanya.

Perkembangan erupsi yang membahayakan telah diantisipasi melalui sebuah rencana kontijensi kebupaten berdasarkan skenario yang disusun Badan Geologi.

Sementara Hanik Humaida mengatakan, erupsi Merapi yang terjadi Mei-Juni 2018 dikontrol oleh proses hydrothermal sealing (nonmagmatik). Sedangkan morfologi abu erupsi Merapi 2018-2020 didominasi oleh butiran pejal (blocky) indikasi minimnya kandungan gas saat butiran terbentuk. Magma Merapi telah mengalami degassing (pelepasan gas) sebelum tererupsikan. “Akumulasi gas yang dilepas itu yang menyebabkan terjadinya erupsi eksplosif saat ini,” katanya. (Dev)

BERITA REKOMENDASI