Masuk Tahun Politik, Butuh Peran Tokoh Agama

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA (KRjogja.com) – Pemimpin agama memiliki tugas berat, khususnya menghadapi tahun politik pada 2018-2019 ini. Sebab jika tidak bijak melihat keadaan, agama justru bukannya membawa rahmat. Namun bisa menjadi laknat karena penempatannya yang tidak pada porsi semestinya.

"Memang semua itu ada positif dan negatifnya. Ketika mampu memaksimalkan nilai positif dan meminimalisir hal negatif, bukan tidak mungkin akan mencapai keseimbangan. Karena itulah pentingnya dialog lintas iman seperti ini untuk menghadirkan kesepakatan yang adil menyikapi segala proses yang terus berjalan agar umat tidak tergilas ekstrimitas," tutur Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof KH Yudian Wahyudi dalam Semiloka 'Peran Tokoh Agama Menjelang Tahun Politik' yang digelar Dialogue Centre UIN Sunan Kalijaga bekerjasama dengan Gereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU) Salatiga dan UEM Wuppertal Jerman di Convention Hall Gedung Prof RHA Soenaryo SH kampus setempat, Sabtu (10/3).

Prof Yudian juga menegaskan, bahwa ketika menghadirkan hal yang berlebihan, menurut agama khususnya Islam, tidak diperkenankan. Demikian juga dengan ketidakseimbangan, dalam Islam pun sangat dihindari karena justru akan memberikan kerugian.

Sementara terpisah, Direktur Dialogue Centre UIN Sunan Kalijaga Dr HZainudin menjelaskan, sejak 2006 pihaknya sudah konsen terhadap kondisi interfaith

(antaragama) di Indonesia melalui sejumlah kegiatan, seperti riset, mempertemukan tokoh, mediasi dan lain sebagainya. Konsentrasi pada interfaith ini dilakukan menurut Zainudin untuk memperkokoh persatuan di Indonesia.

"Termasuk yang saat ini sedang hangat memasuki tahun politik, perlu dibahas mengenai dampak politisasi agama. Tokoh agama memiliki peran penting untuk membawa umat atau jamaahnya agar di tengah situasi yang terus memanas, tidak menimbulkan gejolak di tengah masyarakat," jelasnya.

Sementara Pendeta Heru Purwanta dari GKJTU Salatiga menambahkan, tokoh agama memiliki peran strategis di tahun politik ini sebagai perekat. Bukan justru menjadi laknat yang akan menimbulkan perpecahan di masyarakat.

"Sehingga diharapkan forum ini bisa sebagai jawaban serta memberikan solusi bagi persoalan yang dihadapi bangsa dan negara," ungkapnya. Sosiolog UMY Dr Zuly Qodir yang menjadi salah satu narasumber mengiyakan jika memasuki masa kampanye, isu-isu dan sentimen agama akan banyak dimainkan. Pasalnya antara agama dan politik menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

"Karena itu, agamawan harus mendorong kesalehan politik. Mereka harus menjadi penyebar kedamaian dan ketenangan publik," ungkapnya. Dalam kesempatan ini juga dihadirkan diskusi lintas iman yang menghadirkan narasumber dari enam agama besar di Indonesia. (Feb)

 

UIN

BERITA REKOMENDASI