Masyarakat Masih Perlakukan Diskriminatif Difabel

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Sampai sekarang masyarakat masih perlakukam diskriminatif terhadap Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), difabel maupun disabilitas. Perlakuan itu terlihat nyata, para difabel masih susah melakukan aksesibilitas dan akseptabilitas.

Difabel, disabilitas masih susah dapat diterima masyarakat. Orang difabel dan disabilitas juga masih susah mengakses sarana-prasarana publik juga kampus. Tidak semua layanan publik ramah terhadap difabel.

Demikian diungkapkan Prof Dr Edi Purwanto MPd, Wakil Rektor II UNY dalam seminar bertema ' Aseptabilitas dan Aksebilitas Mahasiswa Berkebutuhan Khusus Menuju Kampus Inklusif' di Meeting Room, Kampus Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Jalan Pramuka, Sidikan Umbulharjo, Yogya, Kamis (21/03/2019). Dalam kesempatan itu, Dr Widodo MSi, selaku Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UAD meluncurkan Pusat Studi dan Layanan Difabel (PSLDa) dan membuka seminar
Tampak hadir dan memberi sambutan pengantar Nurul Hidayati Rofiah MPdI (Kepala Pusat Studi Layanan Difabel/PSLDa-UAD).

Seminar juga menghadirkan narasumber Dr Arif Maftuhin MAg MALS (dosen UIN Sunan Kalijaga) dengan moderator Ragil Kurniawan MPd. Seminar membahas kebijakan Kemenristek Dikti dalam implementasi PT inklusif, penerimaan diri mahasiswa berkebutuhan khusus, penyesuaian diri anak kebutuhan khusus di kampus. Sebelumnya seminar, ditampilkan pertunjukan seni SLB PGRI Minggir Sleman.

Menurut Edi Purwanto, akseptabilitas dan aksesibilitas memang masih jauh dari harapan. Aksesibilitas yakni derajat kemudahan yang bisa dicapai oleh orang terhadap suatu objek, pelayanan atau lingkungan. "Bahkan ada guidingblock untuk difabel di Jalan Suroto Kotabaru baru dipasang, tak begitu lama sudah hilang diambil orang tidak bertanggungjawab," ujarnya.

Ditegaskan Edi Purwanto, perlakuan kurang ramah, diskrimibatif oleh masyarakat karena faktor budaya, regulasi/kebijakan pemerintah dan pelaksanaan. Difabel-disabilitas atau keterbatasan diri bisa berupa fisik, kognitif, mental, sensorik, emosional. "Belum lama saya ke Korea Selatan, perlakuan terhadap difabel sangat bagus sekali, baik akseptabilitas dan aksesibilitas termasuk di lingkungan kampus," ujarnya.

Sedangkan Widodo dalam sambutan mengatakan, PSLDa merupakan pusat studi ke-14
Adanya pusat studi layanan penyandang difabel, disabilitas dapatkan pelayanan yang baik. "Harus diakui, perlakuan terhadap penyandang disabilitas dan difabel," ujarnya.

Harus diakui, belum banyak orang memberi layanan yang baik dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dunia pendidikan. Harapannya pusat studi ini menumbuhkan kesadaran untuk melayani dengan baik. Memahami, memperlakukan sebaik-baiknya mendapatkan akses, terutama pendidikan.

Sedangkan Nurul Hidayati  Rofiah dalam sambutan singkat mengatakan, UAD sebenarnya sudah menerima mahasiswa difabel, disabiltas. "Harapannya dengan PSLDa mampu memperluas kesempatan mahasiswa disabilitas bisa mengakses dan melakukan riset, jurnal, layanan masyarakat, turorial dan advokasi." tandasnya. (Jay)

UAD

BERITA REKOMENDASI