Melani Arta, Modal Nol Rupiah Tumbuh Jadi 9 Resto

Editor: Ivan Aditya

Masakecil Mimin tinggal di Jambi. Orang tuanya sebenarnya seorang pejabat di lingkungan rumah sakit. Namun karena punya banyak anak, menurut Mimin, kehidupannya pun bisa dibilang pas-pasan.”Lulus SD saya melanjutkan sekolah ke Yogya. Sejak itulah saya mulai terbiasa cari uang. Pernah ikut saudara, pernah pula kos. Saya jualan es, makanan dan apa saja yang laku dan bisa dapat uang,” tuturnya.

Dia mengaku, bisa kuliah di jurusan ilmu komunikasi UPN Yogya, rasanya sudah seperti mimpi. Selama menempuh kuliah, Mimin harus belajar keras dan pandai-pandai mengelola uang jatah hidup perbulan Rp 350 ribu.

Dia tak pernah beli buku. Dia harus berbaik-baik dengan teman kuliah agar bisa dipinjami buku.Bisa numpang bonceng motor dari kampus ke kos dan sebaliknya. “Untuk makan, saat itu tahun 2007, jatah sehari hanya Rp 10 ribu. Itu dialokasikan buat 3 kali makan. Agar hemat, saya masak di kos,” ungkapnya.

Keterbatasan tak membuat semangat Mimin surut. Dia bahkan terpacu agar secepat mungkin rampung kuliah. Dia juga sibuk carita mbahan uang dengan bekerjaparuh waktu. Pernah kerja di distro dan ikut EO bila ada event.

“Setelah lulus kuliah, sebelum jualan kepiting, saya pernah kerja di beberapa tempat. Terakhir saya kerja di sebuah BUMN ditempatkan di Jambi. Sambil kerja kantoran, saya jualan pakaian sistem daring. Bahkan hasil dari jualan pakaian lebih banyak disbanding gaji dari kantor,” akunya.

BERITA REKOMENDASI