Memasuki Pancaroba, Masyarakat Diminta Waspadai Penyakit

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Peningkatan intensitas hujan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir perlu diimbangi dengan peningkatan kewaspadaan. Kewaspadaan itu perlu dilakukan karena saat ini DIY masuk dalam kategori musim pancaroba.

Berdasarkan pengalaman yang ada selama ini dalam musim pancaroba biasanya terjadi cuaca ekstrem. Seperti hujan lebat yang disertai dengan angin kencang.

“Selain mewaspadai adanya bencana alam yang kemungkinan terjadi saat musim pancaroba. Karena saat ini masih dalam situasi pandemi, kami minta untuk selalu menjaga kesehatan dan menegakkan prokes. Sebab, pada musim pancaroba di mana terjadi perubahan cuaca ekstrem memudahkan virus dan bakteri untuk berkembang yang berbagai penyakit,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Drs K Baskara Aji.

Baskara Aji mengatakan, selain kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya bencana alam, antisipasi terhadap adanya penyakit juga menjadi penting. Untuk itu meski DIY telah melewati puncak penularan Omicron yang ditunjukkan dengan tren perbaikan kasus.

Tapi pihaknya mengimbau agar masyarakat tidak lengah dan tetap mewaspadai kemungkinan terjadinya lonjakan kasus. Pasalnya jika masyarakat sampai mengabaikan penegakan prokes, tidak menutup kemungkinan muncul klaster baru yang berdampak pada terjadinya lonjakan kasus.

“Dalam situasi sekarang yang perlu diantisipasi adalah adanya Covid-19 yang bermutasi lagi dengan tingkat penularan yang lebih tinggi. Karena kalau lihat awal Covid-19 dulu penularannya rendah, itu saja kita bisa sampai tinggi karena varian baru. Untuk itu cara yang paling efektif untuk mempertahankan tren penurunan adalah dengan program vaksinasi Covid-19 maupun pemberian vaksin booster,” terang Baskara Aji.

Mantan Kepala Disdikpora DIY itu menambahkan, selain beberapa hal di atas untuk mengantisipasi dampak dari adanya cuaca ekstrem saat pancaroba. Pemda DIY juga telah berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota terkait mitigasi potensi bencana ekstrem. Mulai dari memangkas pohon yang berpotensi ambruk serta membersihkan saluran-saluran air.

“Dari kesiapan desa siap. Ada Destana (Desa Tangguh Bencana) dan Kalurahan Tangguh bencana yang selalu disiagakan. Sehingga saat terjadi bencana merek jadi tahu langkah apa yang perlu dilakukan,” ujarnya. (Ria)

BERITA REKOMENDASI