Membawa Budaya Kraton ke Dunia Digital, GKR Hayu Hadapi Banyak Tantangan

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Melalui Tepas Tanda Yekti yang dibentuk pada tahun 2012, GKR Hayu mencoba mengubah persepsi masyarakat soal keraton yang oleh kebanyakan masyarakat dianggap mistis dan misterius. Ia merasa budaya-budaya yang ada di keraton perlu diketahui juga oleh masyarakat luas. Oleh karena itu ia bertekad untuk memanfaatkan perkembangan teknologi untuk membantu misinya tersebut.

“Kalau jaman dulu, budaya-budaya yang ada di keraton itu difoto oleh orang Belanda, kemudian foto-foto itu tersebar di tangan keturunan-keturunan keraton. Kami coba mengumpulkan foto-foto tersebut untuk dijadikan softfile, kemudian diupload untuk project di media sosial dan juga website keraton,” ujarnya.

Demi membawa budaya keraton keluar dari istana, GKR Hayu menghadapi beberapa tantangan internal maupun eksternal. Riset konten menjadi salah satu tantangan yang paling rumit.

“Sebelum mengupload konten kami mengadakan riset konten untuk menghasilkan reliable info. Menurut saya reliable info itu ketika sumber internal dari abdi dalem misalnya, dengan sumber eksternal seperti buku-buku itu bisa matching,” jelas GKR Hayu.

Sumber eksternal yang merupakan buku-buku sejarah keraton membuatnya sadar bahwa ternyata masih banyak orang-orang yang salah persepsi dalam menguraikan budaya keraton. Selain itu, tak jarang ia juga menghadapi resistensi dari para keturunan keraton yang masih merasa asing dengan projectnya. Mereka memiliki pakem-pakem tersendiri soal budaya keraton yang seharusnya terkesan misterius.

“Banyak dari mereka yang tanya ke saya, buat apa (sumber konten yang ada di mereka harus dibagi)? Tapi menurut saya budaya yang ada di keraton ini juga budaya masyarakat, bukan hanya budaya orang yang ada di dalam keraton saja, jadi harus dibawa ke luar,” jelasnya.

Kesulitan-kesulitan itu tak lantas membuatnya berhenti, melalui kerja sama tim yang solid, ia bersama timnya mampu menghadapi persoalan-persoalan tersebut. Sejak facebook keraton Yogyakarta aktif kembali, GKR Hayu mengaku sempat mendapatkan sebuah pesan masuk dari salah seorang masyarakat Yogyakarta.

Di situ ia bercerita betapa susahnya mengajarkan anak-anak tentang budaya keraton. Aspirasi tersebut kemudian disimpan oleh GKR Hayu untuk kemudian dikembangkan menjadi sebuah ide.

“Agar lebih mudah diterima, kami membuat akun instagram khusus untuk konten tentang budaya keraton dan filosofinya. Tapi untuk versi lengkapnya, versi panjangnya, ada di website keraton untuk orang-orang yang memang ingin riset tentang budaya keraton,” ujar GKR Hayu.

Ia bersama timnya juga menggunakan pendekatan melalui akun twitter. Dengan hashtag #TanyaKeraton, banyak anak-anak muda yang bertanya melalui akun twitter mereka tentang budaya keraton.“Sudah banyak kok anak-anak muda yang merespon hashtag itu, mereka tanya soal yang dasar-dasar tentang budaya keraton,” tegasnya.

Pendekatan yang dilakukan GKR Hayu kepada generasi muda juga dilakukan dari sisi internal. Di dalam timnya, ia merekrut anak-anak magang lulusan Amerika untuk memberi perspektif baru tentang budaya keraton, “selain itu kami juga rekrut tenaga freelancer untuk running media sosial keraton, mereka juga masih mahasiswa tapi punya minat belajar yang tinggi tentang budaya keraton,” jelas GKR Hayu. (Mg-07)

BERITA REKOMENDASI