Mempertahankan Predikat Yogya Sebagai Kota Batik Dunia

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Pengakuan internasional terhadap Yogya sebagai Kota Batik Dunia harus dipertahankan. Jangan sampai predikat tersebut dicabut atau bahkan hilang hanya karena masyarakat tak mampu menjaga kekayaan batik yang ada. Hal itu perlu kesadaran bersama untuk melestarikan batik, baik dari produsen maupun masyarakat sebagai konsumen.

Pengurus Perkumpulan Perempuan Wirausaha Indonesia (Perwira) DPC Kota Yogyakarta, Indrawati Gondowinoto mengatakan World Craft Council (WCC) yang merupakan Dewan Kerajinan Dunia memiliki tujuh persyaratan utama yang harus dipatuhi agar Kota Batik Dunia tetap melekat kepada Yogya, salah satunya yakni melestarikan batik secara berkesinambungan. WCC sendiri mendefinisikan batik itu kedalam dua jenis, yakni batik tulis dan batik cap.

“Batik haruslah diciptakan melalui tahapan pembuatan batik tulis atau batik cap, sesuai standar SNI yaitu menggunakan malam panas sebagai perintangnya. Jika tidak menggunakan malam panas maka tidak bisa disebut batik, tetapi dikatakan tiruan batik atau tekstil motif batik," ungkap Indrawati Gondowinoto dalam talkshow bertema ‘Perkembangan UMKM Batik di Yogya’ yang digelar di Kantor Dinas Koperasi dan UMKM DIY, Senin (05/08/2019).

Perempuan berdarah Tionghoa dengan nama Gan Swie Hiang yang pernah mendapatkan rekor MURI 2018 dan juga penulis buku berjudul 'Batika, Jejak Batik Keluarga Gan Tjioe Liam' tahun 2019 ini dengan tegas mengatakan, predikat Yogya sebagai Kota Batik Dunia bisa terancam jika batik tulis maupun cap tak bisa dipertahankan. Pasalnya pihak WCC selalu melakukan monitoring tentang perkembangan batik yang ada di kota ini.

“Oleh sebab batik tetap harus terus eksis secara berkesinambungan di Yogya ini, baik produsen maupun konsumen harus sama-sama melestairikannya. Jangan sampai predikat tersebut hilang hanya karena kita tidak bisa melestarikan warisan budaya batik yang sudah sejak dahulu diperjuangkan nenek moyang kita,” tambahnya.

Indrawati Gondowinoto yang asli Pekalongan Jawa Tengah (Jateng) dan juga sebagai pengurus Paguyuban Pecinta Batik Indonesia (PPBI) Sekar Jagad tersebut mengakui saat ini tiruan batik lebih mendominasi pasaran. Tekstil motif batik banyak dipilih masyarakat karena harganya yang lebih murah dibanding dengan batik tulis maupun cap.

Oleh karena itu ia ingin menggunggah kesadaran masyarakat untuk selalu melestarikan batik baik tulis maupun cap. Ia juga meminta kepada pelaku UMKM maupun kalangan wirausaha untuk turut mensosialisasikan kepada masyarakat tentang karya batik tulis maupun cap.

“Pelaku UMKM maupun pengusaha batik harus jujur, jika tekstil motif batik jangan sekali-kali dikatakan sebagai batik (tulis maupun cap). Selain itu juga harus digelorakan kepada masyarakat semangat untuk mengenakan karya batik yang sesungguhnya, bukan tekstil motif batik,” tegasnya. (Van)

BERITA REKOMENDASI