Menggambar Itu Tidak Ada Benar dan Salah

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Terdapat kesalahan pendidikan di Indonesia, tetapi banyak orang yang tidak menyadarinya. Karya seni rupa, sejatinya tidak ada kata benar ataupun salah. Namun pendidikan tanah air memaksanya menjadi ada istilah keduanya. Hal itulah seperti yang diungkapkan oleh konsultan kreatif digital Anto Motulz.

Menurutnya, ukuran benar dan salah yang disematkan oleh tenaga pengajar ialah berdasarkan kemiripan. Apabila terdapat gambar seorang anak yang tidak mirip dengan anak lainnya maka gambar tersebut akan dikatakan salah, terlebih jika tidak sesuai dengan contoh yang diberikan oleh sang pengajar.

“Gambar kuda enggak mirip dibilang salah, ketika nilai kuda yang tidak mirip dikasih 20, sejak itulah anak mikir tidak bakat gambar,” ujarnya kepada KRJOGJA.com beberapa waktu lalu.

Anto mengungkapkan, sistem pendidikan di Indonesia terbentuk oleh metode barat. Sehingga karya seni rupa pun dinilai berdasarkan kemiripan dan realisme. Hal tersebut tentu sangat bertentangan dengan metode timur.

“Metode barat memang realis, jangankan gambar patung pun mirip. Tapi kalau di timur enggak ada yang realis, relief candi Borobudur misalnya,” tegasnya.

Anto pun memberikan contoh ketika seorang anak menggambar gunung lengkap dengan jalan dan persawahan disampingnya. Menurutnya, ada perspektif yang membuat jalannya semakin lama mengecil dan tiang yang memendek-mendek. Bagi anak, mereka akan kebingunan mengapa menjadi mengecil. Guru pun hanya menjelaskan dengan alasan jauh, tetapi tidak memberikan keterangan mengapa menjadi berbentuk segitiga.

“Gambaran menjauh kok jadi segitiga, guru tidak menjelaskan itu dan pokoknya salah karena tidak mengecil,” ungkapnya.

Anto menuturkan, istilah benar atau salah baru ada ketika seseorang menggambar teknis seperti arsitek. Garis dan ketebalan tinta pun tidak boleh salah, karena sudah adanya skala yang mengatur. Namun hal tersebut memang tidak berlaku pada gambar ekspresi. Bahkan ketika seseorang meminta menggambar kuda dan yang digambar oleh orang lain adalah mobil, itu bukan berarti gambarnya yang salah melainkan kesalahan orang tersebut pada penangkapan pesan.

“Kalau cuma gambar eskpresi saya tidak bisa bilang gambarmu salah. Kecuali saya minta gambar kuda dan dia gambar mobil, itu pun bukan salah gambar tapi salah nangkep apa yang diminta,” pungkasnya. (Mg-10)

BERITA REKOMENDASI