Mengharukan, Gadis Ini Mampu Lulus ‘Cumlaude’ Meski Ortu Tuna Netra

Editor: KRjogja/Gus

SETIAP anak tidak bisa memilih untuk dilahirkan di mana dan oleh siapa. Meski terlahir dari keluarga miskin dan kedua orangtua penyandang tunanetra, tidak menyurutkan tekad Tri Widarti menggapai mimpi dan menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi.

Kagum, haru, sekaligus salut patut ditujukan terhadap kegigihan Tri. Dalam segala keterbatasan berhasil menyelesaikan studi pada Program Studi D3 Kebidanan STIKes Akbidyo Yogya tepat waktu. Malah, lulus menyandang predikat cumlaude dengan IPK 3,57.

Sambil terbata-bata menahan haru, putri bungsu dari tiga bersaudara ini menuturkan, dia bertekad menempuh ilmu setinggi mungkin demi membahagiakan orangtuanya. Sejak kecil terbiasa hidup dalam kekurangan, namun tetap mengutamakan sekolah. Gadis asal dusun Botokan Jatirejo Lendah Kulonprogo ini yakin, dengan bekal pendidikan yang cukup, bisa mengangkat derajat keluarga.

Tekad itu dilandasi keinginan untuk membangun rumah yang layak bagi orangtuanya. Saat ini, tempat tinggal keluarganya jauh dari layak. Dindingnya tidak rapat, sehingga terpaan angin kencang bisa menerobos masuk. Atap pun bolong di sana-sini. "Kalau hujan, kami sibuk mencari posisi yang tidak bocor. Juga berupaya menampung bocoran pakai ember atau wadah apa pun," tuturnya seraya menyeka air mata.

Untuk menggapai keinginannya bukan hal mudah, harus menempuh jalan terjal, berliku dan penuh rintangan. Sadar kurang mampu secara ekonomi, dia mengatasi dengan tekun belajar. Prestasi bagus di sekolah, jadi modal mendapatkan beasiswa. Tri termasuk anak cerdas sehingga sejak SD hingga SMA mendapat beasiswa.

"Hanya itu yang bisa saya lakukan. Sebab orang tua tak mungkin mampu menopang seluruh biaya sekolah," ungkapnya.

Tri Widarti bisa kuliah di STIKEs Akbidyo dengan beasiswa Bidik Misi dari Ditjen Dikti Kemenristekdikti. Kini, telah menyandang gelar Ahli Madya Kebidanan. Namun, tak berhenti di situ, dia bertekad melanjutkan studi ke jenjang S1 Profesi Bidan, lalu ke S2. Bahkan bila memungkinkan hingga S3.

Orangtuanya tidak menyangka anaknya bisa kuliah hingga selesai. Wajah mereka tak mampu menyembunyikan kegembiraan. Sang ayah, Wakijo (66) dan ibunya Suprih Mulyani (67) tak henti mengucap syukur. Pasangan tunanetra itu hidup pas-pasan. Wakijo mencari nafkah sebagai pemijat, sedangkan istrinya ibu rumah tangga biasa. Beruntung, walau keduanya tunanetra, namun ketiga anaknya terlahir normal.

"Meski kekurangan, tapi saya berusaha menyekolahkan anak-anak setinggi mungkin, bagaimana pun caranya," tutur Wakijo penuh haru, saat ditemui usai menghadiri wisuda putrinya, Kamis (30/8).

Kini, Tri maupun Wakijo dan Suprih bisa bernapas lega. Berkat prestasi akademiknya, Tri akan direkrut almamaternya menjadi tenaga kependidikan. Sambil melanjutkan studi, sementara dia akan ditempatkan sebagai staf laboratorium. Sebab, untuk jadi dosen minimal harus lulusan S2. (Ben)

 

BERITA REKOMENDASI