Mengungkap Jati Diri Mukidi

Editor: Ivan Aditya

YOGYA (KRjogja.com) – Nama Mukidi mendadak terkenal di dunia maya dan mengundang penasaran para netizen. Bak selebriti dadakan, Mukidi tampil dalam berbagai kesempatan dalam panggung dunia tak nyata. Beberapa meme lucu bermunculan seiring dengan ketenaran namanya. Lantas siapakah Mukidi?

Mukidi merupakan sosok yang muncul dalam sebuah blog ceritamukidi.wordpress.com. Dalam blog ini banyak tertulis cerita-cerita kocak dengan tokoh utama bernama Mukidi.

Dilihat dari namanya, Mukidi banyak ditafsirkan sebagai orang Jawa tulen. Mukidi mengaku berasal dari Cilacap, namun terkadang Mukidi menjelma menjadi anak Betawi maupun orang Surabaya atau Madura.

Seperti daerah asalnya yang berubah-ubah, usia Mudini juga tak jelas. Terkadang ia menjadi seorang anak usia pelajar, sesekali sebagai remaja namun dalam kesempatan lain Mukini berubah menjadi pria dewasa yang telah berkeluarga.

Siapapun Mukidi, sosok ini telah menghiasi media sosial dengan cerita-cerita konyolnya. Penulis tokoh Mukidi yang memang sengaja dirahasiaka juga mengundang rasa penasaran dan masih menjadi misteri hingga kini.

Berikut beberapa tulisan yang menceritakan kelucuan Mukidi.

 

Mukidi dan Gajah

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.00. Bel sekolah berbunyi dan para siswa pun langsung berlarian memasuki kelasnya masing-masing. Termasuk Mukidi. Mukidi memang sangat dikenal oleh para guru di sekolah itu. Anaknya sih nggak bandel-bandel amat. Namun dia sangat populer sebagai anak yang nyebelin banget.

Siang itu Mukidi duduk di paling depan. Karena salah satu bangku teman yang ada di depan tidak masuk. Maka dari itu Mukidi berniat duduk di paling depan. Kebetulan pelajaran hari itu adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Ini adalah mata pelajaran yang paling disukai oleh Mukidi. Nah pada kesempatan itu, Guru Mukidi berkeinginan untuk membuat teba-tebakan nama hewan. Berikut dialognya

Guru: "Anak-anak, apa nama binatang yang dimulai dengan huruf G ?".

Mukidi berdiri dan menjawab : "Gajah, bu guru !"

Guru: "Bagus, pertanyaan berikutnya. Apa nama binatang yang dimulai dengan huruf 'D' ?"

Semua murid diam, tapi Mukidi kembali berdiri :"Dua gajah, Bu Guru…"

….gerrr sak kelas

Guru :"Mukidi, kamu berdiri di pojok sana !

Ayo anak-anak kita lanjutkan. Pertanyaan berikut, binatang apa yang dimulai dengan huruf "M"?  

Semua murid diam.

Tapi lagi-lagi Mukidi menjawab dengan tenang "Mungkin Gajah…"

Guru:"Mukidi, kamu keluar dan berdiri di depan pintu !"  

Mukidi keluar dengan suuedihhh. Guru melanjutkan.

Guru :"Pertanyaan terakhir. Anak-anak, binatang apa yang dimulai dengan huruf "J"?

semua diam.

Tak lama sayup-sayup terdengar suara Mukidi dari luar kelas

Mukidi : "Jangan-jangan Gajah"

Saking kesalnya, Bu Guru menyuruh Mukidi pulang….

Guru : "Sekarang anak-anak, binatang apa yang diawali dengan huruf P ?"

Sekali lagi semua murid terdiam.

Tiba-tiba HP bu Guru berdering.

Guru: "Ya hallo…"

HP : 'Maaf bu, saya Mukidi. Jawabannya: Pasti Gajah"

 

Mukidi Tanya Dokter Soal Kondom

Di ruang operasi rumah sakit, seorangg dokter bedah melihat Mukidi yang akan dioperasi kelihatan gelisah. Untuk menenangkannya, Mukidi diajak bercanda.

Dokter : "Bapak tau cara membuat sarung tangan karet yang sedang saya pakai ini?"

Mukidi : "Tidak dok…"

Jawab Mukidi sambil memberi isyarat dengan tangannya.

Dokter : "Begini Pak.. Karet mentah direbus sampai meleleh lalu pegawai pabrik rame2 mencelupkan tangan ke dalam cairan karet itu. Setelah itu tangan segera diangkat untuk diangin-anginkan. Tak lama kemudian jadilah sarung tangan seperti ini."

Mukidi tersenyum mendengar penjelasan sang dokter. Beberapa saat kemudian Mukidi tertawa terpingkal-pingkal. Dokter heran dan bertanya.

Dokter: "Mengapa Anda tertawa seperti itu..?"
Mukidi : "Dengar cerita dokter tadi, saya lalu membayangkan bagaimana cara membuat kondom."

Dokter: (bengong)

 

Mukidi Merdeka

Jaya adalah tetangga Mukidi, tapi mereka tak pernah rukun. Mukidi merasa Jaya adalah saingannya.
Jika Jaya beli sepeda baru, Mukidi tidak mau kalah. Mukidi ya beli sepeda baru juga.
Ketika menjelang Lebaran, rumah Jaya dicat merah. Besoknya, Mukidi mengecat dengan warna merah juga.
Karena kini 17 Agustusan, Jaya memasang spanduk di depan rumah bertulisan "INDONESIA TETAP JAYA".
Hati Mukidi panas dan memasang spanduk juga dangan tulisan "INDONESIA TETAP MUKIDI"

(Van)

BERITA REKOMENDASI