Menjawab Tantangan Tradisi Emas Olimpiade

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) sukses menuntaskan tugas dan perjuangan menjaga tradisi medali emas di Olimpiade Tokyo 2020. Keberhasilan itu tentu mengandung konsekuensi untuk segera berbenah, agar dalam ajang Olimpiade Paris 2024 tradisi medali emas tetap bisa dipertahankan.

Hal tersebut disampaikan mantan pemain bulutangkis DIY era tahun 80-an hingga 90-an, yang saat ini menggeluti profesi sebagai pelatih, Sunarno (65) di kediamannya, Minomartani Sleman, Kamis (12/08/2021). Setelah berhenti sebagai pemain, Sunarno melatih PB Sinar Mataram, PB Setiakawan, Pusdiklat Jaya Raya Yogya, Pusdiklat Bank Haga, dan saat ini melatih PB Osiadajo (Oentuk Indonesia dari Jogjakarta).

Untuk Olimpiade Paris 2024 PBSI masih berharap dan mengandalkan pemain-pemain yang saat ini menghuni Pelatnas. Sepanjang keikutsertaan Indonesia dalam ajang Olimpiade, cabang olahraga bulutangkis telah mengoleksi 21 medali (8 emas, 6 perak, dan 7 perunggu). “Tradisi medali emas Olimpiade sempat terputus pada pelaksanaan Olimpiade London 2012. Saat itu cabang olahraga bulutangkis sama sekali tidak mendapatkan medali,” ujar Sunarno.

Menurut Sunarno, disadari sepenuhnya arti dan makna prestasi yang telah dicapai oleh para patriot bulutangkis Indonesia yang telah mengharumkan nama bangsa dan negara di arena percaturan olahraga Internasional. Prestasi olahraga bermakna sebagai ungkapan kerja keras atas dasar landasan prohram yang dirancang secara sistematis untuk mencapainya. “Guna menjawab tantangan tradisi medali emas Olimpiade mau tidak mau regerasi tidak boleh ditawar-tawar,” ungkap Sunarno.

PBSI harus bekerja keras agar kesinambungan prestasi dan prestise perbulutangkisan Indonesia untuk melanjutkan tradisi medali emas tetap terjaga. Berdsarkan pengamatan dan data perolehan medali selama mengikuti OLimpiade, sejak Olimpiade Barcelona 1992 sampai Olimpiade Beijing 2008, medali yang diperoleh mayoritas diraih pebulutangkis produk Pusat Pendididikan dan Latihan (Pudiklat) yang kemudian ditarik di Pelatnas.

Nova Widianto, Liliana Natsir, Ricky Subagya, Rexy Mainaky, Chandra Wijaya, Toni Gunawan, Taufik Hidayat. Hendrawan, Trikus Harjanto, Flandi Limpele, Eng Hian, Mia Audina, Alan Budi Kusuma, Susi Susanti, Ginting, Aprilia Rahayu, dan Gresya Poli merupakan pebulutangkis yang awalnya meniti karir bulutangkis di Pusdiklat. Selain pembentukan Pusdiklat ‘murni’, pada saat itu klub-klub bulutangkis potensial juga dikukuhkan sebagai Pusdiklat. “Keberhasilan ganda Nova Widianto/Lilyana Natsir memperoleh medali perak di Olimpiade Beijing 2008 juga tidakj lepas dari keberadaan Pusdiklat,” ujar Sunarno. Nova Widianto merupakan alumni Pusdiklat Bimantara Tangkas,

Pusdiklat dengan segala kelebihan dan kekurangannnya ke depan perlu disempurnakan dalam pengelolaan maupun pengawasan, serta regulasinya. Yang jelas pola pembinaan yang sudah diterapkan di Pusdiklat telah membuahkan hasil yang memadai.

Keberafaan Pusdiklat di setiap provinsi sebagai wadah mempersiapkan pebulutangkis perkumpulan yang berkualitasm seperti tercantum dalam AD/ART Pasal 79 ayat 1 tahun 2020, Ini merupakan program strategis untuk menjawabn tantangan pemunculan pebulutangkis pada masa yang akan datang. (Hrd)

BERITA REKOMENDASI