Menjelajah Lebih Jauh Sejarah Kain Jumputan di Tahunan

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJOGJA.com – Kelurahan Tahunan Umbulharjo Kota Yogyakarta dikenal sebagai sentra kain Jumputan sejak 2010 lalu. Ratusan warga setempat telah merasakan manfaat menjadi perajin kain yang menurut cerita sudah dikenakan manusia sejak ribuan tahun silam.

Namun begitu, belum banyak yang memahami lebih dalam mengenai sejarah Kain Jumputan Tahunan tepatnya di kawasan Celeban tersebut. Banyak yang mempertanyakan lantaran di Tahunan pada masa lampau, tidak ada sama sekali garis keturunan perajin kain tersebut.

KRjogja.com berusaha menggali lebih dalam melalui beberapa orang yang kemudian diketahui sebagai penggagas Jumputan di Tahunan bertepatan dengan event Jogja Heboh yang digelar Sabtu (9/2/2019) sore di sepanjang Jalan Batikan. Sukamto, Ketua RW 08 Celeban Tahunan menjadi orang pertama yang ditemui di mana ia ternyata merupakan sosok yang menginisiasi hadirnya kain Jumputan pada 2010 lalu.

“Awalnya tidak ada warga yang berprofesi sebagai perajin kain Jumputan, lalu dari LPMK menginisiasi dan awalnya juga sedikit kaum ibu tertarik hanya sekitar 12 orang saja yang ikut pelatihan di awal-awal dulu. Mungkin ya tidak tahu kalau kain ini bisa membawa dampak ekonomi positif untuk warga,” ungkapnya mengisahkan.

Namun begitu, lambat laun setahun dua tahun berjalan, perajin yang dilatih untuk memproduksi Jumputan mulai menuai hasil yang lantas menginspirasi warga masyarakat lain untuk ikut ambil bagian. “Tahun berjalan, ternyata dampak positifnya muncul, di sisi lain kami juga urai limbah air yang muncul dan berhasil dengan baik. Akhirnya mulai berkembang ada 50 orang ikut jadi perajin lalu berkembang jadi ratusan saat ini,” imbuh Sukamto.

Beberapa perajin pribadi bahkan mampu berkembang pesat hingga brandnya dikenal luas ke berbagai wilayah Indonesia dan luar negeri. Sebut saja Maharani, Hana dan Ibu Sejahtera menjadi kelompok-kelompok yang sukses dan namannya dikenal luas di masyarakat.

KRjogja.com juga sempat berbincang dengan Surani penggagas awal Jumputan Maharani. Dari Surani diketahui ada beberapa pola yang dikreasikan oleh perajin di Tahunan seperti Jumput Pitu dan Jumput Sanga.

“Kalau apa khasnya mungkin semua punya masing-masing tapi kalau yang hampir semua buat ya Jumput Pitu ini. Mungkin jadi khasnya Tahunan juga,” tutur Surani saat berbincang di kediaman yang juga rumah produksi miliknya.

Surani mengamini bahwa ia memulai menjadi perajin Jumputan pada periode 2010 lalu. Saat itu ia diminta ikut pelatihan Jumputan padahal sebelumnya berprofesi sebagai penjahit. Kain yang semula tak cukup berharga mampu disulap bernilai lebih mulai Rp 150 ribuan perlembar.

“Saya menangkap peluang dan kemudian diseriusi. Jalan 9 tahun ini ternyata menjanjikan. Saya punya 50-an perajin dan karyawan dan omset bulanan bisa mencapai Rp 25-50 juta,” imbuhnya.

Di sisi lain, kain Jumputan juga mampu menggerakkan ekonomi masyarakat khususnya kaum perempuan di Tahunan. Para lansia, difabel hingga ibu-ibu rumah tangga yang semula hanya menanti nafkah dari suami mampu berkarya menemukan semangat hidup.

“Perajin saya ada lansia, ibu rumah tangga dan difabel juga. Mereka semua ingin berkarya dan terpenting bisa menunjukkan eksistensi agar punya semangat hidup. Ini misi utama saya bagaimana memberdayakan masyarakat sekitar,” lanjutnya.

Meski membawa manfaat besar untuk masyarakat, namun perajin Jumputan di Tahunan tampaknya memiliki pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Persaingan bisnis yang tercipta membuat ego tiap-tiap kelompok menjadi besar yang tak jarang tak membuat iklim baik.

Pembentukan asosiasi pun mulai digagas agar kedepan para perajin memiliki semangat saling mendukung satu sama lain dan bukan sebaliknya. “Asosiasi ini mungkin bakal kami gagas bersama, semoga kedepan bisa semakin maju dan iklimnya baik,” sebut Sukamto yang juga Ketua Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSK) Tahunan tersebut. (Fxh)

 

 

BERITA REKOMENDASI