Menulis Buku Ajar, Gampang-gampang Susah

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Buku ajar sering juga disebut buku teks. Peluang untuk menulis buku ajar terbuka luas. Hal tersebut dikatakan dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Dr Rina Ratih MHum dalam Pelatihan Buku Ajar yang diselenggarakan Magister Manajemen (MM) UAD di kampus 2 UAD, Jalan Pramuka Umbulharjo Yogya, Selasa (10/11/2020).

“Buku manual untuk pengajaran dalam satu bidang ilmu sebagai pegangan suatu mata kuliah dan sarana pengantar ilmu pengetahuan,” ujar Rina Ratih MHum dalam pelatihan yang dibuka Dr Aftoni Sutanto SE MSi selaku Kaprodi MM-UAD tersebut.

Menurutnya menulis buku ajar memang gampang-gampang susah. Gampang karena setiap dosen punya peluang untuk menulis buku ajar. “Persoalnya, tidak semua buku ajar sesuai standardisasi dari Dikti. Buktinya banyak dosen yang ikut untuk mendapatkan dana hibah buku ajar, tidak lolos juga,” tandasnya.

Buku ajar memang punya standar dan syarat tertentu, misalnya buku ajar ditulis dengan bahasa yang mudah dimengerti mahasiswa dengan banyak ilustrasi untuk memperjelas konsep, ditambah soal latihan dan penugasan.
Selain itu, buku ajar ditulis dan disusun oleh pakar dibidangnya dan memenuhi kaidah teks serta diterbitkan secara resmi dan disebarluaskan. Dapat pula dijadikan bukti melaksanakan pendidikan/penelitian. “Buku ajar memang harus ditulis orang berkompeten sesuai disiplin ilmunya,” tuturnya.

Sedangkan Dr Aftoni Sutanto MSi mengatakan, MM-UAD baru sekali mengadakan Pelatihan Buku Ajar. Harapannya dengan Buku Ajar, dosen membuat buku ajar sendiri. Tentu saja, menulis buku ajar sesuai ketentuan yang berlaku. “Menulis buku ajar bisa memberi kontribusi jabatan fungsional,” ujarnya. (Jay)

BERITA REKOMENDASI